ya ampuun... aku bener2 ga tega bikin part terakhir ini.... tapi I hope you like it :')
Darah berceceran dimana-mana. Aku bingung harus berbuat apa. Seketika, airmata menetes dari mataku, dan aku langsung berlari, menggendong Liana, dan membawanya ke rumah sakit bersama Chiqi. Kami berlari sambil menyetop setiap taxi yang lewat, berharap salah satu taxi itu mau mengantar kami ke rumahs akit terdekat. Tapi, melihat darah Liana saja mereka sudah tutup pintu. terpaksa kami berlari sekencang mungkin menuju rumah sakit. Jantungku berdebar cepat. Ya Allah... Selamatkan Liana...
* * *
Aku, Chiqi, Anne, dan keluarga Liana menunggu dengan gelisah di depan UGD. Sesekali salah satu dari kami mengintip dari celah kaca, namun tertutup oleh badan suster atau dokter. Air mata masih terus menetes diselingi isak tangis dariku. Sungguh memalukan menangis seperti ini, apalagi bagi seorang laki-laki sepertiku. Tapi setiap aku mencoba berhenti, aku kembali teringat akan gadis di ruang UGD itu. Dialah gadis yang aku suka sejak SD, sahabatku juga seseorang yang kukagumi. Aku benar-benar tidak mau kehilangannya. Aku menatap jam dinding. Sudah 5 jam sejak kami berlari dan membawanya ke ruang UGD. Apa dia akan selamat?
Seorang dokter keluar. Aku dan orang-orang lain berlari ke arahnya, untuk mengetahui kabar dari Liana. Dokter memasang tampang pasrah dan berkata pelan, "Nona Liana ingin bertemu kalian." Lalu ia permisi dan pergi. Kami segera masuk ke ruangan itu. Melihat Liana terbujur lemas membuatku ingin menetskan air mata lagi, dan aku memang melakukannya. Kami mengelilingi ranjang Liana dan tersenyum. ia membalas senyuman kami dengan senyuman penuh kehangatan. Lalu ia melihatku, dan raut wajahnya menjadi sedih. "Do, kamu nangis?'' Katanya. Aku mengusap air mataku lalu tersenyum. "Aku cuma khawatir aja." Lalu Kak Tasya angkat bicara, "Li, gimana perasaanmu?" Liana menjawab sambil menerawang, "Rasanya tenang dan damai." Entah mengapa perasaanku jadi ga enak. Aku harus mengatakan hal penting itu sekarang! Sebelum kemungkinan paling buruk terjadi...
"Mama dan keluarga yang lain keluar dulu ya, sayang." Kata Mama Liana dengan mata berkaca-kaca, Liaan lalu mengangguk, dan mereka keluar. Sekarang tinggal aku, Anne, Chiqi, dan Liana. Chiqi menatapku seperti meminta kepastian, lalu aku mengangguk mantap. Chiqi dan Anne lalu mundur sedikit jauh dari ranjang itu. Inilah saatnya..
"Li, aku bener-bener minta maaf. Tadi aku ga ada maksud mesra-mesraan sama Chiqi, beneran! Aku cuma mau hibur dia, dia lagi bener-bener terpuruk, Li!" Jelasku. Lalu Liana menjawab dengan sangat perlahan, suaranya seperti tercekat, seperti mau habis. "Ga, aku ngerti kok. Aku percaya sama kalian, kalo terjadi sesuatu diantara kalian pasti kalian ga akan main di belakangku dan Anne. Kalian pasti udah bilang dari kemaren-kemaren." Jawabnya, lalu ia meringis.
"Li, aku pingin ngomong sesuatu yang serius. Akhir-akhir ini, kamu sering liat aku bareng-bareng Chiqi, kemana-mana sama dia. Semua yang aku lakuin sama dia itu ga lain dan ga bukan(?) adalah buat nyiapin pengungkapan perasaanku sama kamu, Li(wos!). Tapi, aku ga nyangka semua jadi kacau kayak gini. Jadi, aku cuma mau bilang kalo aku bener-bener minta maaf dan... aku suka kamu." Tuturku panjang lebar. Jantungku berdebar kencang, melihat raut wajahnya berubah menjadi jauh lebih tenang. Setetes air mata meluncur dari mata ke pipinya. "Aku seneng hari ini, ada semua orang yang aku sayangi. Ada kakak, mama, papa, sahabat, dan cowok yang aku suka. Aku suka kamu, Do." Lalu ia tersenyum manis. Perasaanku campur aduk, antara senang, khawatir, dan bingung. Tapi, perasaan yang paling mendominasi(?) saat ini adalah perasaan khawatir yang begitu besar buatnya.
"Ya, makasih buat kalian semua. Langit juga kelihatan indah malem ini." Bisiknya, lalu melihat langit malam yang penuh bintang dan satu bulan bersinar cerah dari jendela ruang UGD. Aku mengikutinya. "Ya, kamu bener, Li. Malem ini indah banget."Lalu aku berpaling padanya, tapi ia sudah memejamkan matanya dan bibirnya tersenyum. Apa dia tidur? Tapi.. Saat aku liat alat pengukur detak jantung, hanya garis lurus yang terlihat disana. "Li, Li, LIANA!!!!!! Bangun, Li!!!! DOKTER!!! DOKTER!!!!!!" Teriakku sambil mengguncang-guncang badan Liana, lalu menekan alarm untuk memanggil dokter atau suster. Tak lama kemudian seorang dokter dan dua suster datang. Mereka memintaku, Chiqi, dan Anne keluar. Kami menangis di luar, kami juga berdoa. Keluarga Liana yang menunggu di laur juga melakukan hal yang sama. Kami saling menggenggam tangan satu dengan yang lain.
Dokter keluar dengan wajah lebih pasrah dari sebelumnya. Ia bahkan tak melihat kami sedikitpun. "Kami mohon maaf sebesar-besarnya, tapi kami tak dapat menyelamatkan nyawa Nona Liana. Kalian yang sabar, ya." Lalu dokter itu pergi dengan raut wajah penuh kesedihan. Kami segera meluncur ke dalam ruang UGD dan memeluk erat jenazah Liana. "Li.. kenapa kamu pergi begitu cepat, sayang?? Coba tadi mama berhasil mencegahmu pergi ke sekolah.." Kata mama Liana sambil terus menciumi tangan Liana sambil menangis tersedu-sedu. Yang lainnya melakukan hal yang sama, menangisi Liana. Tapi semua sudah terlambat, tak ada yang bisa mengubah takdir kalau seorang gadis ceria yang penyayang dan bersahabat bernama Liana, baru saja kembali ke sisi-Nya. "Udah semua, sekarang Liana udah tenang. Dia udah terbebeas dari segala beban duniawi yang ditanggungnya. Kalau kita menangisinya, kita justru akan menghambat jalannya.."Kata Anne dengan suara pelan, sambil mengusap air matanya. "Kamu bener, Ne. Kita ga boleh terus-terus tangisin dia, kita harus ikhlas.."Sambung Kak Rossa. Ya, ikhlas... Aku akan berusaha mengikhlaskan kepergianmu, Li..
* * *
Kami berdiri mengelilingi sebuah makam yang baru saja dibuat, makam sahabat kami, keluarga kami, dan adik kami, Liana Pramesthi. Wajah cerianya kini tak akan terlihat lagi, senyum indahnya kini takkan bersinar lagi, dan langkah mantapnya menjalani hari tak akan terasa lagi. Kami pasti akan merindukan suara indahnya, tutur manisnya, dan kecerobohannya. Marahnya, jengkelnya, dan semua tentangnya. Ya, kami akan sangat merindukan Liana. Semua itu memang takkan terlihat, terdengar, dan terasa lagi. Tapi, akan selalu ada dalam hati kami. Liana begitu berjasa bagi hidup kami. Ia menyadarkan Chiqi dan Anne kalau sikap mereka tak benar, ia membujuk mama dan papanya agar mau memasukkan kakak perempuannya ke jurusan yang ia inginkan, ia mempertemukan kakak lelakinya dengan jodohnya, ia mendamaikan pertengkaran antara dua orang tuanya, dan ia memberikan seorang teman, teman yang tak akan bisa dilupakan, bagi seorang lelaki bernama Aldo ini. Li, kamu harus inget kalau kita ga akan lupain kamu. Kamu akan selalu ada di hati kita, sampai ajal menjemput kita semua.... Selamat tinggal, Liana Anindita Pramesthi....
~THE END~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar