Kamis, 30 Desember 2010

Cerpen baru~ Part 4

          Upacara pernikahan berlangsung dengan sangat khidmat dan mengharukan. aku sampai menangis dibuatnya, tapi Chiqi dan Anne berpesan kalau air mataku jangan sampai jatuh, takut make upku rusak. jadi aku hanya menangis dalam hati(?). Sepulang Ijab Qabul, kami langsung cabut(?) ke tempat resepsi. Bajuku diganti dengan gaun yang lebih modern. Huh, hari ini sangat melelahkan. Tetapi, aku senang karena semua berjalan lancar. Tempat resepsinya berada di sebuah landed apartment milik sepupu Kak Rossa. Kita menyewa rumah khusus pesta. Wah, tempatnya sangat bagus sampai aku berharap bisa tinggal disitu terus.
          Seselesainya resepsi, Kak Rizal dan Kak Rossa menginap di rumah khusus pesta itu, sementara yang lain pulang. resepsi selesai pukul 7 malam, jadi aku, Chiqi, Anne, dan Aldo menyempatkan diri pergi ke cafe terdekat untuk membahas banyak hal. Pembahasan berlangsung sangat seru sampai Aldo mengajak Chiqi pergi ke meja paling ujung dan memintaku dan Anne untuk tidak ikut kesana. Di sana kulihat mereka berbicara sangat serius, sesekali Chiqi berkata "Ciee" lalu Aldo tertawa. Aku dan Anne memilih pulang duluan. Kebetulan aku memang sudah merencanakan untuk menginap di rumah Anne, jadi kami meminta ayah Anne untuk menjemput di cafe dan segera pulang tanpa sepengetahuan Chiqi dan Aldo. Aku benar-benar merasa terkacangi oleh mereka! Huh seenaknya saja berduaan padahal ada aku dan Anne.
                                                           * * *
          Aku dan Anne sedang bercanda di kamarnya saat tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar Anne dengan keras. Anne secepatnya membuka setelah sebelumnya ia mengambil pemukul baseball, olahraga kesukaannya, jaga-jaga kalau yang diluar kamarnya saat ini adalah seorang pencuri atau apapun yang negatif. Ternyata itu Chiqi dengan tampang cemberutnya. "Kalian kok gitu sih? ninggalin aku sendirian di cafe??" Chiqi langsung nyelonong masuk dengan tas ranselnya. "Untung ada Aldo yang mau nganterin ke sini."Katanay setelah duduk di sebelahku di tempat tidur.
          Aku langsung berdiri, aku kembali PANAS. "terus aja, Aldo. Aldo, aldo, aldoooo terus." Kataku sambil menajuh darinya. "Iya, kita dikacangin terus! Ga sopan tau!" Sambung Anne yang baru menutup pintu kamar. "Loh, kenapa? Kalian cemburu?" Kata Chiqi santai. Kurasakan pipiku memerah, meka dari itu aku melangkah cepat ke kamar mandi dan mencuci muka. Sepertinya Anne dan Chiqi bertengkar hebat di luar, aku tak tahu apa yang mereka bicarakan. Aku keluar setelah cuci muka dan gosok gigi. Lalu kami segera tidur.
                                                                           * * *
          Keesokan paginya, kami mencoba melupakan kejadian kemarin malam dan pergi ke mall. Rasanya nyaman bisa berbaikan dengan dua sahabatku. Setelah itu, aku dijemput Kak Tasya, dan kami menghabiskan waktu di rumah, memasak puding coklat, makanan kesukaan papa. besok hari senin, hari yang paling bikin males. Aku tidur jam 8.30 dan bangun keesokan paginya pukul 5 pagi.
          Setelah bersiap-siap, aku berangkat ke sekolah bersama papa dan Kak Tasya, namun sebelum itu aku pamit pada mamaku. tiba-tiba mamaku menggenggam tanganku erat dan melarangku untuk melepasnya. "Ma, aku mau ke sekolah.." Kataku. Mama menggeleng. "Jangan nak. Hari ini kamu di rumah aja ya. Perasaan mama ga enak nak.." Kata beliau. "Ih, mama bikin takut aku aja. Udah lah ma, itu kan cuma perasaan. Lagian hari ini aku ada ulangan. Udah dulu ya ma, keburu telat!" aku melepas tangan mamaku paksa dan berlari menuju mobil, walaupun sebenarnya perasaanku juga sama dengan mama.
          Ulangan berjalan lancar. Untung saja kemarin aku sudah minta diajari papa yang pintar matematika. Sepulang sekolah, aku mengantar Anne ke pinggir jalan untuk menunggu jemputannya. Mobil ayah Anne datang lalu tiba-tiba gerimis. Ayah Anne membuka jendela mobilnya dan berkata, "Li, bareng Anne aja yuk! Kamu dijemput?" Aku menggeleng. "Nggak usah om, Li nunggu bemo aja om makasih.." Anne menyaut, "Yakin? Bentar lagi kayaknya bakal deres lo.." Aku mengangguk mantap sambil tersenyum, "Yakin. Udah sana jalan! hahahah" Lalu mobil itu berjalan menjauh. Aku memutuskan untuk ke kantin dan membeli segelas teh.
                                                              * * *
          "Do, kayaknya bakal deres nih! Mending udahan aja main basketnya ya! Gw pulang dulu!" Kata Arif, teman main basketku. Duh, sekarang ngapain ya? ga mungkin aku naik motor pulang sekarang. Bisa-bisa basah kuyup, terus motorku rusak. Aku memutuskan untuk memutari sekolah. Aku sampai di halaman belakang sekolah ketika aku mendengar suara tangis seorang perempuan. Dih, siapa ya? Jangan-jangan yang diceritain Li bener lagi, disini ada hantu! Mendadak aku merinding, apalagi saat suara itu berkata, "Aldo, itu kamu?" Aku menjerit. "Do, ini Chiqi.. Kamu apaan sih?" Kata suara itu. Aku mengelus dada lalu menghampiri suara itu. Chiqi sedang duduk di kursi taman belakang sekolah dengan selembar tissue di tangannya dan mata sembab. "Kamu kenapa?" Aku segera menghampirinya. "Nggak, nggak apa-apa." Katanya sambil mengelap airmatanya yang mulai jatuh lagi. "Eh, ayo cerita! Aku ga suka penasaran." Kataku memaksa. "Janji kamu ga bilang siapa-siapa?" Katanya sambil berbisik. Aku mengangguk.
          "Ayahku bangkrut. Perusahaannya udah nggak sanggup bayar utang dari bank lagi, dan 2 hari lagi rumah kita mau disita beserta isi-isinya. Aku ga tau harus ngapain lagi, do! Mungkin abis ini aku ga bakal punya uang buat sekolah.." Katanya masih berbisik. Ia menangis sesenggukan. "Udah gapapa. Hidup kamu belum berakhir, Chiq. Kamu masih punya aku, Li, Anne, dan banyak orang lain yang peduli sama kamu. Kita pasti bakal bantu kamu nyelesain masalah ini!" Kataku menenangkannya. "Iya, aku ngerti. Makasih ya, do. Do, aku boleh nyender sebentar ga? Aku butuh seseorang yang meu meminjamkan behunya buat aku di masa-masa sulit kayak gini." Balasnya, Aku mengangguk dan ia nyender (?). Tiba-tiba, aku mendengar suara gelas terjatuh dan suara kaki berlari. Aku segera menoleh ke arah suara itu, dan ternyata itu Li! Terlihat dari tasnya yang berwarna merah tua. Aku segera mengejarnya, begitu pula Chiqi. Aku menggenggam lengannya. "Li, kenapa sih?" Wajahnya keliatan marah, matanya sembab. "Sana gih!!! Mesra-mesraan sama Chiqi!!! Aku ga bakal ganggu kalian!!!" ia mencoba melepaskan tangannya, tapi tak bisa. Akhirnya dengan kekuatan penuh, ia berhasil melepaskan genggamanku dan terlempar ke jalan raya. Ia terduduk sambil menangis disana, mencoba berdiri tapi sepertinya ia terjatuh sangat keras. Saat ia baru berhasil berdiri, ada sebuah mobil melaju kencang, dan.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar