Lanjutannya Liana Sekuel~
Aku menatap bayanganku di cermin. Waw. Apa ini aku? "Wah, adekku udah gede, ya! Cantik, Li." Kak Rizal menghampiriku dengan setelan jas warna emas. Aku sedang fitting baju untuk pernikahan Kak Rizal. AKu memakai kebaya dengan atasan berbordir bung-bunga yang sangat elok berwarna emas, dan jarik berwarna coklat. Rambutku yang hitam tebal panjang sampai siku dan bergelombang kubiarkan terurai. Ya, aku sangat berbeda dengan baju ini. "Terima kasih." Balasku, lalu aku berbalik arah menatap Kak Rizal yang kelihatan keren dengan bajunya. "Hmm.. Ga kerasa ya kak, 9 hari lagi kakak udah berkeluarga. Dan kita ga bakal tinggal serumah lagi. Kakak udah dewasa sekarang, beda sama yang dulu. Jaga Kak Rossa baik-baik ya kak" Aku menepuk bahu kakakku itu, lalu ia memelukku. "Iya, adek kecil." Katanya sambil mencubit pipiku.
Kak Tasya dan mama tak kalah cantiknya denganku. apalagi Kak Rossa. Ia terlihat seperti seorang putri raja dengan kebaya yang sangat serasi dengan setelan jas Kak Rizal! Papa juga terlihat gagah dengan setelan jasnya. Aku bahagia mempunyai keluarga seperti ini. Hubungan kami sangat erat, seerat pasangan sahabat. aku sayang kalian semua, keluargaku.
* * *
Uaaah... Aku terbangun karena cahaya matahari yang begitu silau pagi ini. Kulihat jam tanganku. HAH! Jam setengah 8! Aldo sampai di sini jam setengah 9, dan rumah jauh dari airport! Aku segera berlari ke kamar mandi, memakai baju seadanya dan melesat dengan mobil Kak Tasya ke airport. Hari ini aku akan bertemu sahabatku dari SD, Aldo Rahman Yudhadhika. Aku harus tepat waktu! Di perjalanan, hpku berbunyi, ada telepon dari Chiqi. Aku mengangkatnya. Ia berkata sebentar lagi ia dan Anne akan sampai ke airport. Ia juga menanyakan dimana aku, dan aku menjawab kalau aku baru masuk tol. Ia kaget dan marah-marah. Aku mempercepat laju mobilku, dan untungnya tak ada polisi atau banyak mobil disini. Aku juga tak punya SIM, karena baru 16 tahun hehe. Tapi Kak Rizal berbaik hati meminjamkan SIM dan mobilnya padaku, alasannya karena ia percaya padaku, dan ia juga berkata bahwa aku sangat mahir dalam mengendarai mobil.
Tak lama aku sampai di airport. Secepat kilat aku turun dari mobil, menguncinya, dan melesat ke dalam gedung. Aku mencari dimana-mana tapi tak juga menemukan Aldo. Setelah 10 menit aku mencari, aku bertanya pada informasi. "Mbak, pesawat Guahiro(?) Airlines yang dari jerman sudah mendarat belum? Kok saya ga nemu temen saya ya?" Mbaknya menjawab dengan tawa kecil. "Mbak ini gimana sih? Ya ga ketemu lah mbak, ini kan tempat kedatanagn dalam negeri." Aku menepuk dahiku dan berterima kasih pada mbak informasi. Aku melesat menuju tempat "Kedatanagn Internasional", lalu aku melihat sebuah pemandangan. Di deretan kursi, aku melihat ada buku jatuh, Chiqi mencoba mengambilnya, dan tangannya yang sudah memagang buku dipegang juga oleh seorang laki-laki yang sepertinya juga hendak mengambil buku itu.
Wajah lelaki itu tidak asing. Itu,...ALDO! MEndadak ada perasaan marah yang muncul, tapi langsung kutepis. Aku berlari ke arah mereka dan berkata dengan keras, "HEI!!! Maaf ya aku terlambat, tadi kesiangan!" Mereka melihatku dengan tatapan aneh. Aldo memicingkan mata lalu tersenyum ceria, "LIANA!!" Katanya lalu memelukku. "Kamu tinggi ya, sekarang! Tapi tetep.. Masih lebih tinggi aku! Hahahha" Katanya sambil nyengir. Aku menjitaknya pelan. "Kalian sudah saling kenal?" Tanyaku sambil melihat ke arah Aldo-Chiqi. Mereka mengangguk serempak. Tak lama Anne datang dari arah toilet. "Hei Li! Dari mana aja sih? Lama banget" Katanya. Aku menceritakan pagiku. Setelah itu, kami bersenang-senang seharian sebelum besok mulai sekolah.
Rabu, 22 Desember 2010
Cerpen baru~ Part 1
Fiuh, akhirnya minggu ini masuk minggu-minggu tenang(apamaksudnya). Tadi pagi baru rapotan, aku peringkat 9! hah lumayan lah. Semakin bertambahnya usia, sayya mau bikin cerpen dengan konflik lebih berat(?) dan sedikit, sediiiikiiiiiiittttttt ada cinta2annya OTL OTL orz. tapi tenang, ga akan fokus ke cinta2an itu. Selamat kembali bosan ya(?) soalnya aku mau bikin cerpen tentang tokoh kita yang lama, si Liana lagi. Tapi, sekarang dia udah SMA kelas 2. Oke, tanpa perlu berbasah-basah lagi(?), soalnya udah ga hujan(?). Oke, selamat menikmati hidangan(??)
"Liana (Sekuel)"
Aldo Yudhadhika has joined the chatroom.
Aldo Yudhadhika: Hai cewek-cewek :3
Liana Pramesthi : Hei, Al!
Chiqita Mayla : Halo :)
Putri Anne : Aloha~
Liana Pramesthi : Kamu jadi balik ke Indonesia kapan, Al?
Aldo Yudhadhika: Kira-kira 3 hari lagi
Putri Anne : What? 3 hari lagi? Ewewew
Chiqita Mayla : Kamu bakal sekolah dimana nanti, Al?
Aldo Yudhadhika: SMA Langit Cerah (?)
Chiqita Mayla : Eh?? Itu sekolah kita tau!
Aldo Yudhadhika: Yakin?
Chiqita Mayla : Banget!
Putri Anne : Wah bagus dong kita jadi bisa ketemu kamu, Al! Kita susah bayangin kamu cuma dari deskripsinya Liana aja
Chiqita Mayla : Iya Liana deskripsiinnya ga jelas! Hahahha
Liana Pramesthi : Yeee, orang udah jelas banget! Kalian aja yang ngelamun waktu aku jelasin. Wah, asik dong kita satu sekolah, aku jemput kamu ke bandara ya? Sekalian nagih oleh-oleh dari Jerman hehehe.
Putri Anne : Cuit cuiiiiiiittttttt = 3 =
Chiqita Mayla : Ne, kayaknya kita tinggal aja deh, biar berduaan! hahahah
Liana Pramesthi : Ih apaan sih? = ="
Putri Anne : ayuk, ayuk.... ;)
Aldo Yudhadhika: HUSH
"Li..! Ayo makan dulu!!"Teriak mama dari meja makan. Aku segera mematikan laptop yang dari tadi siang kunyalakan dan berjalan menuju meja makan. Kulihat ke jendela dan terbelalak melihat langit sudah gelap saja. "Loh udah malem?" Tanyaku spontan. "Hhhh... Ga nyadar waktu sih kalo chatting... Dari jam 12 sampe jam 7 loh ma!" Kata Kak Tasya sambil membawa nasi goreng yang baru dimasak ke meja makan. "Iya nih.. Oh iya, abis ini kita sama-sama fitting baju ya, kan pernikahannya Kak Rizal tinggal 9 hari lagi.." Balas mama sambil menyantap nasi goreng buatan Kak TAsya. Beliau lalu mengacungkan jempol ke arah Kak Tasya yang dibalas dengan senyuman Kak Tasya. "Sip.. Eh, papa sama Kak Rizal mana?" Tanyaku sambil celingak-celinguk mencari keberadaan dua makhluk yang sedari tadi nggak keliatan itu. "Papa sama Kak Rizal udah berangkat duluan.. Soalnya mereka mau cek gedung buat pernikahan Kak Rizal dulu katanya, sama mau nyamperin keluarganya Kak Rossa." Jawab kak Tasya.
4 tahun berlalu sejak aku mendapatkan dua sahabat baik yang sampai sekarang sekelas denganku, Chiqi dan Anne. Sekarang Kak Rizal sudah berusia 26 tahun dan 9 hari lagi akan menikah dengan rekan kerjanya di Majalah Cepripis, Kak Rossa, wanita cantik dan baik ahti yang juga sahabat baikku. Sementara Kak Tasya, sudah berusia 22 tahun, baru lulus kuliah dan mulai serius dengan pacarnya, Kak Fandi, yang merupakan teman kuliah Kak Tasya. Sementara aku? Aku sudah berusia 16 tahun sekarang, SMA kelas 2 dan bahkan belum punya pacar. Tapi aku tetap senang karena Chiqi dan Anne bersedia menunggu sampai aku punya pacar duluan, walaupun banyak anak yang pernah nembak mereka. Aku benar-benar sayang sama dua sahabatku itu. "Eh, mama, 3 hari lagi Aldo mau pulang ke Indonesia lo! Aku boleh ya ma jemput dia di airport?"
"Aldo? Oh temen SD kamu itu ya? Yang pindah ke Jerman? Boleh dong! Hh, dari dulu mama seneng sama anak itu, udah baik, pinter, sopan pula!" Balas mama dengan mata berbinar. "Ganteng juga, ma!" Timpal Kak Tasya. Aku masih fokus ke makananku. Minggu ini akan jadi minggu tersibuk bagiku.
"Liana (Sekuel)"
Aldo Yudhadhika has joined the chatroom.
Aldo Yudhadhika: Hai cewek-cewek :3
Liana Pramesthi : Hei, Al!
Chiqita Mayla : Halo :)
Putri Anne : Aloha~
Liana Pramesthi : Kamu jadi balik ke Indonesia kapan, Al?
Aldo Yudhadhika: Kira-kira 3 hari lagi
Putri Anne : What? 3 hari lagi? Ewewew
Chiqita Mayla : Kamu bakal sekolah dimana nanti, Al?
Aldo Yudhadhika: SMA Langit Cerah (?)
Chiqita Mayla : Eh?? Itu sekolah kita tau!
Aldo Yudhadhika: Yakin?
Chiqita Mayla : Banget!
Putri Anne : Wah bagus dong kita jadi bisa ketemu kamu, Al! Kita susah bayangin kamu cuma dari deskripsinya Liana aja
Chiqita Mayla : Iya Liana deskripsiinnya ga jelas! Hahahha
Liana Pramesthi : Yeee, orang udah jelas banget! Kalian aja yang ngelamun waktu aku jelasin. Wah, asik dong kita satu sekolah, aku jemput kamu ke bandara ya? Sekalian nagih oleh-oleh dari Jerman hehehe.
Putri Anne : Cuit cuiiiiiiittttttt = 3 =
Chiqita Mayla : Ne, kayaknya kita tinggal aja deh, biar berduaan! hahahah
Liana Pramesthi : Ih apaan sih? = ="
Putri Anne : ayuk, ayuk.... ;)
Aldo Yudhadhika: HUSH
"Li..! Ayo makan dulu!!"Teriak mama dari meja makan. Aku segera mematikan laptop yang dari tadi siang kunyalakan dan berjalan menuju meja makan. Kulihat ke jendela dan terbelalak melihat langit sudah gelap saja. "Loh udah malem?" Tanyaku spontan. "Hhhh... Ga nyadar waktu sih kalo chatting... Dari jam 12 sampe jam 7 loh ma!" Kata Kak Tasya sambil membawa nasi goreng yang baru dimasak ke meja makan. "Iya nih.. Oh iya, abis ini kita sama-sama fitting baju ya, kan pernikahannya Kak Rizal tinggal 9 hari lagi.." Balas mama sambil menyantap nasi goreng buatan Kak TAsya. Beliau lalu mengacungkan jempol ke arah Kak Tasya yang dibalas dengan senyuman Kak Tasya. "Sip.. Eh, papa sama Kak Rizal mana?" Tanyaku sambil celingak-celinguk mencari keberadaan dua makhluk yang sedari tadi nggak keliatan itu. "Papa sama Kak Rizal udah berangkat duluan.. Soalnya mereka mau cek gedung buat pernikahan Kak Rizal dulu katanya, sama mau nyamperin keluarganya Kak Rossa." Jawab kak Tasya.
4 tahun berlalu sejak aku mendapatkan dua sahabat baik yang sampai sekarang sekelas denganku, Chiqi dan Anne. Sekarang Kak Rizal sudah berusia 26 tahun dan 9 hari lagi akan menikah dengan rekan kerjanya di Majalah Cepripis, Kak Rossa, wanita cantik dan baik ahti yang juga sahabat baikku. Sementara Kak Tasya, sudah berusia 22 tahun, baru lulus kuliah dan mulai serius dengan pacarnya, Kak Fandi, yang merupakan teman kuliah Kak Tasya. Sementara aku? Aku sudah berusia 16 tahun sekarang, SMA kelas 2 dan bahkan belum punya pacar. Tapi aku tetap senang karena Chiqi dan Anne bersedia menunggu sampai aku punya pacar duluan, walaupun banyak anak yang pernah nembak mereka. Aku benar-benar sayang sama dua sahabatku itu. "Eh, mama, 3 hari lagi Aldo mau pulang ke Indonesia lo! Aku boleh ya ma jemput dia di airport?"
"Aldo? Oh temen SD kamu itu ya? Yang pindah ke Jerman? Boleh dong! Hh, dari dulu mama seneng sama anak itu, udah baik, pinter, sopan pula!" Balas mama dengan mata berbinar. "Ganteng juga, ma!" Timpal Kak Tasya. Aku masih fokus ke makananku. Minggu ini akan jadi minggu tersibuk bagiku.
Cerpen! OAO AUOO(?) Part 4
Ini part terakhir dari "Liana".. THE CLIMAX! (?)
"Hey, Liana! Kamu sudah bikin poster kita kan?" Tanya Chiqi sambil menghempaskan rambut bergelombangnya itu. Aku mengangguk malas. Lalu Anne tiba-tiba mengambil poster itu dari tanganku dan memberikannya kepada Kak MArcell dan KAk Tristan. Aku mengikutinya dari belakang. "Wah, keren banget nih! Siapa yang bikin?" Kata Kak Marcell sambil melihat posterku. Sebelum aku sempat menjawab, Anne langsung nyamber(?), "Aku dong kak! Bareng Chiqi!" Lalu Anne dan Chiqi tersenyum sok ceria. Ah, biarin aja, pikirku. Biarin mereka beraksi sekarang. Aku harus sabar, ya, aku harus sabar. Aku hanya bisa mengelus dada.
Besok MOS berakhir, dan acara hari ini bisa dibilang lumayan sukses. Sepulang MOS, aku langsung dijemput Kak Tasya dengan mobilnya. Ia menyuruhku bergegas supaya kita bisa menjalankan 'rencana' kita dengan lancar. Kami pergi ke kantor Majalah Cepripis, dan disana aku didandani. Kak Rizal datang setelah aku selesai dan mengacungkan 2 jempol.
* * *
Seperti yang sudah kami duga, pukul 12 siang Chiqi dan Anne tiba di Kantor Majalah Cepripis. Kami semua bersiap di posisi. Chiqi dan Anne masuk ruang pemotretan dan Kak Rizal berlagak sedang memotretku. "Kak, pemotretan hari ini temanya apa?" Kata Chiqi. Kak Rizal bergegas menghampiri mereka, and here the show begins. "Aduh, maaf ya, Chiqi dan Anne, kayaknya kakak ga bisa pake kalian lagi deh." Kata Kak Rizal sok sedih. Chiqi dan Anne keliatan kaget banget. "HAH? K.. kenapa kak?" Tanya Anne. IA dan Chiqi keliatan panik banget.
"Gini, kemaren Kak Rizal dipanggil Pak Yoko, presiden direktur majalah Cepripis. Katanya, kakak disuruh ganti model, alasannya pembaca udah ga tertarik lagi sama kalian. Dan sekarang, kalian terpaksa kakak berhentiin jadi model halaman fashion majalah ini, dan udah kakak gantiin dengan model baru yang lebih standard." Aku hanya bisa tertawa kecil mendengar penjelasan palsu dari Kak Rizal itu. Chiqi dan Anne tampak sangat kesal. "mana sih model itu? Aku mau ketemu!" Kata Chiqi langsung main terobos saja ke tempat foto. Dan dia sangat terkejut saat melihatku sedang berpose di depan background berupa ruang makan kerajaan.
"LI!" Teriaknya, begitu juga dengan Anne yang baru menyusul. "Kenapa?" Tanyaku dengan senyum penuh remeh. Haha, ini pembalasan! "K...kamu model yang ditunjuk Pak Yoko?" Tanya Anne. Aku mengangguk penuh semangat. "Iya bener, wah jadi ini pekerjaan yang bikin kalian ga bisa bantuin aku ngerjain poster ya waktu itu? Hmm kalo gitu mulai sekarang karena aku 'model', aku limpahin aja ya semua tugasku ke kalian! udah gitu,.. nanti tinggal ngaku kalo tugas itu aku yang bikin! Enak banget ya! Wah enak nih kalo jadi model terus, hahaha!" Tuturku dengan nada penuh kesombongan. Aku merasa puas sekali sekarang, rasanya seperti berton-ton beban lepas begitu saja dari punggungku. Aku makin puas saat melihat wajah mereka memucat. Mereka naik ke tempat foto dan meraih tanganku. "Li, Li, Liana cantik, jangan gitu dong! Kita minta maaf ya! Kita janji kita ga bakal ngelakuin itu lagi! Asal, kamu kembaliin pekerjaan ini ke kita ya!" Kata mereka bersaut-sautan.
Aku melepaskan tanganku dari genggaman mereka. "Aduh, gimana ya? Sayangnya aku udah ada kontrak sama majalah ini tuh selama 6 bulan.. dan kayaknya aku bakal sibuk banget.."Kataku mengatakan info palsu. Kulihat di pojok Kak tasya cekikikan, sementara kulihat di dekat pintu masuk ruang pemotretan Kak RIzal mengacungkan jempol. "Aku minta maaf, Chiq, Ne.. Kayaknya kalian harus pergi sekarang. Soalnya kita mau mulai kerja."Kata Kak Rizal memperkeruh suasana bagi Chiqi dan Anne. Mereka mendadak menangis sesenggukan. Kak Tasya makin tertawa ngakak. Kak rizal menepukkan tangannya pelan yang berarti 'sudah cukup'. Aku lalu menghampiri mereka yang terduduk lemas di lantai sambil berkata, "hei, aku bakal ngasi job ini buat kalian lagi. Asal, kalian janji ya ga bakal ulangin perbuatan bejat kalian itu lagi, dan berteman sama aku terus selamanya secara tulus. Janji?" Kataku sambil tersenyum dan hendak menyalami tangan mereka. "Janji!" Kata Chiqi dan Anne lalu memelukku erat. "Udah gih, sana pemotretan!" Kataku sambil tertawa kecil. "Hmm gimana kalo abis pemotretan kita ke MelissaCity Mall baut nonton film bareng?" Ajak Chiqi. "wah, boleh tuh! Katanya disana bioskopnya murah tapi bagus, kan? Mau, mau! Aku yang traktir deh!" Balas Anne. Chiqi dan Anne lalu menatapku penuh harap. "Atur aja deh!" Kataku lalu tertawa.Dalam hati aku bangga kepada diriku sendiri karena sudah berhasil mengubah sikap seseorang. Kuharap, mulai sekarang kita bisa jadi sahabat baik :).
SALAM PERSAHABATAN BUAT SEMUA ORANG DI DUNIA!!! :D
"Hey, Liana! Kamu sudah bikin poster kita kan?" Tanya Chiqi sambil menghempaskan rambut bergelombangnya itu. Aku mengangguk malas. Lalu Anne tiba-tiba mengambil poster itu dari tanganku dan memberikannya kepada Kak MArcell dan KAk Tristan. Aku mengikutinya dari belakang. "Wah, keren banget nih! Siapa yang bikin?" Kata Kak Marcell sambil melihat posterku. Sebelum aku sempat menjawab, Anne langsung nyamber(?), "Aku dong kak! Bareng Chiqi!" Lalu Anne dan Chiqi tersenyum sok ceria. Ah, biarin aja, pikirku. Biarin mereka beraksi sekarang. Aku harus sabar, ya, aku harus sabar. Aku hanya bisa mengelus dada.
Besok MOS berakhir, dan acara hari ini bisa dibilang lumayan sukses. Sepulang MOS, aku langsung dijemput Kak Tasya dengan mobilnya. Ia menyuruhku bergegas supaya kita bisa menjalankan 'rencana' kita dengan lancar. Kami pergi ke kantor Majalah Cepripis, dan disana aku didandani. Kak Rizal datang setelah aku selesai dan mengacungkan 2 jempol.
* * *
Seperti yang sudah kami duga, pukul 12 siang Chiqi dan Anne tiba di Kantor Majalah Cepripis. Kami semua bersiap di posisi. Chiqi dan Anne masuk ruang pemotretan dan Kak Rizal berlagak sedang memotretku. "Kak, pemotretan hari ini temanya apa?" Kata Chiqi. Kak Rizal bergegas menghampiri mereka, and here the show begins. "Aduh, maaf ya, Chiqi dan Anne, kayaknya kakak ga bisa pake kalian lagi deh." Kata Kak Rizal sok sedih. Chiqi dan Anne keliatan kaget banget. "HAH? K.. kenapa kak?" Tanya Anne. IA dan Chiqi keliatan panik banget.
"Gini, kemaren Kak Rizal dipanggil Pak Yoko, presiden direktur majalah Cepripis. Katanya, kakak disuruh ganti model, alasannya pembaca udah ga tertarik lagi sama kalian. Dan sekarang, kalian terpaksa kakak berhentiin jadi model halaman fashion majalah ini, dan udah kakak gantiin dengan model baru yang lebih standard." Aku hanya bisa tertawa kecil mendengar penjelasan palsu dari Kak Rizal itu. Chiqi dan Anne tampak sangat kesal. "mana sih model itu? Aku mau ketemu!" Kata Chiqi langsung main terobos saja ke tempat foto. Dan dia sangat terkejut saat melihatku sedang berpose di depan background berupa ruang makan kerajaan.
"LI!" Teriaknya, begitu juga dengan Anne yang baru menyusul. "Kenapa?" Tanyaku dengan senyum penuh remeh. Haha, ini pembalasan! "K...kamu model yang ditunjuk Pak Yoko?" Tanya Anne. Aku mengangguk penuh semangat. "Iya bener, wah jadi ini pekerjaan yang bikin kalian ga bisa bantuin aku ngerjain poster ya waktu itu? Hmm kalo gitu mulai sekarang karena aku 'model', aku limpahin aja ya semua tugasku ke kalian! udah gitu,.. nanti tinggal ngaku kalo tugas itu aku yang bikin! Enak banget ya! Wah enak nih kalo jadi model terus, hahaha!" Tuturku dengan nada penuh kesombongan. Aku merasa puas sekali sekarang, rasanya seperti berton-ton beban lepas begitu saja dari punggungku. Aku makin puas saat melihat wajah mereka memucat. Mereka naik ke tempat foto dan meraih tanganku. "Li, Li, Liana cantik, jangan gitu dong! Kita minta maaf ya! Kita janji kita ga bakal ngelakuin itu lagi! Asal, kamu kembaliin pekerjaan ini ke kita ya!" Kata mereka bersaut-sautan.
Aku melepaskan tanganku dari genggaman mereka. "Aduh, gimana ya? Sayangnya aku udah ada kontrak sama majalah ini tuh selama 6 bulan.. dan kayaknya aku bakal sibuk banget.."Kataku mengatakan info palsu. Kulihat di pojok Kak tasya cekikikan, sementara kulihat di dekat pintu masuk ruang pemotretan Kak RIzal mengacungkan jempol. "Aku minta maaf, Chiq, Ne.. Kayaknya kalian harus pergi sekarang. Soalnya kita mau mulai kerja."Kata Kak Rizal memperkeruh suasana bagi Chiqi dan Anne. Mereka mendadak menangis sesenggukan. Kak Tasya makin tertawa ngakak. Kak rizal menepukkan tangannya pelan yang berarti 'sudah cukup'. Aku lalu menghampiri mereka yang terduduk lemas di lantai sambil berkata, "hei, aku bakal ngasi job ini buat kalian lagi. Asal, kalian janji ya ga bakal ulangin perbuatan bejat kalian itu lagi, dan berteman sama aku terus selamanya secara tulus. Janji?" Kataku sambil tersenyum dan hendak menyalami tangan mereka. "Janji!" Kata Chiqi dan Anne lalu memelukku erat. "Udah gih, sana pemotretan!" Kataku sambil tertawa kecil. "Hmm gimana kalo abis pemotretan kita ke MelissaCity Mall baut nonton film bareng?" Ajak Chiqi. "wah, boleh tuh! Katanya disana bioskopnya murah tapi bagus, kan? Mau, mau! Aku yang traktir deh!" Balas Anne. Chiqi dan Anne lalu menatapku penuh harap. "Atur aja deh!" Kataku lalu tertawa.Dalam hati aku bangga kepada diriku sendiri karena sudah berhasil mengubah sikap seseorang. Kuharap, mulai sekarang kita bisa jadi sahabat baik :).
SALAM PERSAHABATAN BUAT SEMUA ORANG DI DUNIA!!! :D
Kamis, 16 Desember 2010
Cerpen! OAO AUOO(?) Part 3
Jangan bosen sama tokoh Liana ya, ceritanya bentar lagi abis kok, hehe.
Dari jam 2 siang tadi sampai sekarang, jam 7 malam, aku masih saja menatap karton putih besarku yang kosong di meja belajarku. Aku mengetuk-ketukkan beberapa spidol di genggamanku ke meja belajar, sambil memikirkan mau membuat poster seperti apa.
"Hai cewek, makan malam dulu yuk?" Kata Kak Tasya sambil menjulurkan kepalanya di pintu kamarku. Aku memalingkan badan untuk menatapnya dan berkata, "Ah, sebentar lagi ya, kak. Aku lagi ngurus tugas nih." Kak Tasya masuk dan menutup pintu. "Tugas apa sih?" Katanya sambil menatap karton kosongku. "Poster." Jawabku cepat. "Perasaan kakak, kalo tugas kayak gini pas MOS ada kelompoknya deh." Katanya sambil menerawang ke masa SMPnya. Aku berjalan gontai ke arah tempat tidur dan menghempaskan diriku ke tempat tidur itu. Kak Tasya mengikutiku. "Iya, emang kelompokan. Tapi kelompokku ga ada yang mau ngerjain tugas, sebel banget kan? Bahkan biaya karton ini aja juga ga mau patungan." Kak Tasya berguling lalu menatapku. "terus ngapain masih dikerjain tugasnya?" Katanya sedikit kesal. Aku mengangkat bahu sambil duduk. "YAh, mau gimana lagi. Mereka bilang mereka sibuk, sibuk jadi model majalah. Akhirnya sama kakak pembina aku deh yang suruh ngerjain sendiri."Kataku merengut.
Kak Tasya minta ditunjukkan majalah dimana Chiqi dan Anne menjadi model, lalu ia tersenyum remeh sambil berkata, "Hah? Foto cuma sekali doang kayak gini mah setengah jam selesai! Loh, ini yang foto Kak Rizal?" Aku mengangguk. Orang yang baru disebut namanya itu muncul, Kak Rizal. "Woi, masa' aku makan sendiri sih? Ayo dong pada makan semua! Sya, mama papa belum pulang?" KAk Rizal ikut-ikutan ke tempat tidurku. Kak Tasya menggeleng cepat. "Oh iya, Li, tadi siang tumben kamu nanya-nanya?" Tanya Kak Rizal lagi. Kak Tasya menceritakan masalahnya.
"Oh, jadi dua model cacing itu temen kamu, Li?" Tanya Kak Rizal setelah Kak Tasya bercerita. Spontan aku dan Kak Tasya tertawa terbahak-bahak. "Hah, CACING?" Kata kami nyaris serentak. Kak Rizal mengambil camilan di lemari 'rahasia' di kamarku untuk menyimpan camilan tanpa sepengetahuan orang tuaku(hehe) lalu duduk lagi di tempat tidur. "Iya, abisnya mereka tuh lebay banget gayanya. Cara ngomong mereka alay pula! Ih amit-amit deh. Yang paling parah, kalau aku dateng atau mereka dapet bagian foto sama artis, uah bisa jingkrak-jingkrak jerit-jerit mereka! Gara-gara kebanyakan tingkah itu, makanya aku dan semua kru Cepripis julukin mereka 'cacing'." Aku dan Kak Tasya hanya mengangguk. Jadi Chiqi dan Anne ngefans sama kakakku? Aku cekikikan sendiri. Yah, memang kakakku pinter banget motretnya, udah gitu bisa dibilang cukup keren lah.
Kak Tasya dan Kak Rizal yang kasihan padaku membantuku mengerjakan poster. Fiuh, untung ada Kak Tasya yang kuliah jurusan seni rupa dan Kak Rizal yang pinter gambar, posterku jadi bagus. Kurang dari satu jam sudah jadi. Di belakang poster kutulis 'Regu Kelinci-Gugus Biru'. "Aku masih sebel sama tingkah dua cacing itu." Tiba-tiba Kak Rizal angkat bicara. "Bener tuh, aku juga. Kita harus kerjain mereka! Biar kapok hihihi" Balas Kak Tasya. Kak rizal mengangguk pelan, sementara aku mengangguk cepat. Mereka memang menyebalkan! Sekali-sekali boleh dong ngerjain orang? Hehe. Lalu kami menyusun rencana untuk mengerjai mereka.
Chapter klimaksnya sebentar lagi kubikin ya.. :D Semoga suka! >w<
Dari jam 2 siang tadi sampai sekarang, jam 7 malam, aku masih saja menatap karton putih besarku yang kosong di meja belajarku. Aku mengetuk-ketukkan beberapa spidol di genggamanku ke meja belajar, sambil memikirkan mau membuat poster seperti apa.
"Hai cewek, makan malam dulu yuk?" Kata Kak Tasya sambil menjulurkan kepalanya di pintu kamarku. Aku memalingkan badan untuk menatapnya dan berkata, "Ah, sebentar lagi ya, kak. Aku lagi ngurus tugas nih." Kak Tasya masuk dan menutup pintu. "Tugas apa sih?" Katanya sambil menatap karton kosongku. "Poster." Jawabku cepat. "Perasaan kakak, kalo tugas kayak gini pas MOS ada kelompoknya deh." Katanya sambil menerawang ke masa SMPnya. Aku berjalan gontai ke arah tempat tidur dan menghempaskan diriku ke tempat tidur itu. Kak Tasya mengikutiku. "Iya, emang kelompokan. Tapi kelompokku ga ada yang mau ngerjain tugas, sebel banget kan? Bahkan biaya karton ini aja juga ga mau patungan." Kak Tasya berguling lalu menatapku. "terus ngapain masih dikerjain tugasnya?" Katanya sedikit kesal. Aku mengangkat bahu sambil duduk. "YAh, mau gimana lagi. Mereka bilang mereka sibuk, sibuk jadi model majalah. Akhirnya sama kakak pembina aku deh yang suruh ngerjain sendiri."Kataku merengut.
Kak Tasya minta ditunjukkan majalah dimana Chiqi dan Anne menjadi model, lalu ia tersenyum remeh sambil berkata, "Hah? Foto cuma sekali doang kayak gini mah setengah jam selesai! Loh, ini yang foto Kak Rizal?" Aku mengangguk. Orang yang baru disebut namanya itu muncul, Kak Rizal. "Woi, masa' aku makan sendiri sih? Ayo dong pada makan semua! Sya, mama papa belum pulang?" KAk Rizal ikut-ikutan ke tempat tidurku. Kak Tasya menggeleng cepat. "Oh iya, Li, tadi siang tumben kamu nanya-nanya?" Tanya Kak Rizal lagi. Kak Tasya menceritakan masalahnya.
"Oh, jadi dua model cacing itu temen kamu, Li?" Tanya Kak Rizal setelah Kak Tasya bercerita. Spontan aku dan Kak Tasya tertawa terbahak-bahak. "Hah, CACING?" Kata kami nyaris serentak. Kak Rizal mengambil camilan di lemari 'rahasia' di kamarku untuk menyimpan camilan tanpa sepengetahuan orang tuaku(hehe) lalu duduk lagi di tempat tidur. "Iya, abisnya mereka tuh lebay banget gayanya. Cara ngomong mereka alay pula! Ih amit-amit deh. Yang paling parah, kalau aku dateng atau mereka dapet bagian foto sama artis, uah bisa jingkrak-jingkrak jerit-jerit mereka! Gara-gara kebanyakan tingkah itu, makanya aku dan semua kru Cepripis julukin mereka 'cacing'." Aku dan Kak Tasya hanya mengangguk. Jadi Chiqi dan Anne ngefans sama kakakku? Aku cekikikan sendiri. Yah, memang kakakku pinter banget motretnya, udah gitu bisa dibilang cukup keren lah.
Kak Tasya dan Kak Rizal yang kasihan padaku membantuku mengerjakan poster. Fiuh, untung ada Kak Tasya yang kuliah jurusan seni rupa dan Kak Rizal yang pinter gambar, posterku jadi bagus. Kurang dari satu jam sudah jadi. Di belakang poster kutulis 'Regu Kelinci-Gugus Biru'. "Aku masih sebel sama tingkah dua cacing itu." Tiba-tiba Kak Rizal angkat bicara. "Bener tuh, aku juga. Kita harus kerjain mereka! Biar kapok hihihi" Balas Kak Tasya. Kak rizal mengangguk pelan, sementara aku mengangguk cepat. Mereka memang menyebalkan! Sekali-sekali boleh dong ngerjain orang? Hehe. Lalu kami menyusun rencana untuk mengerjai mereka.
Chapter klimaksnya sebentar lagi kubikin ya.. :D Semoga suka! >w<
Selasa, 14 Desember 2010
Cerpen! OAO AUOO(?) Part 2
Ini dia lanjutan dari "Liana"...
Chiqi dan Anne mendekat ke Kak Marcell sambil berkata, "Si Liana tuh! Padahal kan kita ada pemotretan nanti, masa' dia egois gitu, katanya kita juga harus bantuin bikin poster? Ga tau apa kita model? Sibuk tau!" Uh, dasar cewek-cewek sok imut, pikirku. Hmm la la la, aku ga mau denger lanjutannya, soalnya pasti kak Marcell belain dua cewek ga mutu itu. Dan bener. Aku duah ga inget dia ngomong apa, yang pasti Kak Marcell mihak Chiqi dan Anne. Ah udah lah. Daripada panjang masalahnya, mending aku ngalah aja.
TIN TIN!!!! "Neng, mau naik ga?" Aku terbangun dari lamunanku. Angkot biru-merah sudah ada di depanku, lengkap dengan supir yang tampangnya marah banget. "Eh, iya bang maaf." Secepatnya aku naik angkot dan angkot itu melaju kencang.
* * *
"Assalamu'alaikum!" Kataku sambil masuk ke rumah. Kulihat kakak keduaku yang sekarang berada di bangku kuliah, Kak Tasya, sedang memasak. Hmm pasti ini sup dengan resep mama. Kecium dari baunya! Kak Tasya memang kuliah pagi, jadi jam 1 siang seperti ini udah pulang. Dengan lunglai karena kepanasan aku masuk kamar sebelum Kak TAsya sempat menjawab salamku. Aku berbaring di tempat tidur, tapi rasanya ada yang aneh di atas bantalku. Uh, apa ini? Loh. kenapa bisa ada majalah disini?
Aku terbelalak membaca nama majalah itu. CEPRIPIS!! Ini nama majalah tempat Chiqi dan Anne jadi model! TAnpa pikir panjang aku membuka majalah itu. Ada muka mereka nggak ya disini? Pikirku/ Aku mencari, mencari, dan mencari, dan... aha! Aku menemukan foto Chiqi berpose dengan dress bunga-bunga merah, dan Anne di sebelahnya memakai dress warna hijaudi halaman "fashion". Ohh.. Jadi mereka betul-betul model.. TApi bukan berarti mereka bisa meninggalkanku dengan seabrek tugas dong! Uang buat ganti beli karton aja mereka ga mau bayar! Huh. Iseng-iseng aku membaca keterangan di halaman majalah paling bawah. Disana tertulis:
Model: Chiqita dan Putri Anne
Dress Chiqi: Bulanbintang Department Store
Dress Anne: Toko Baju lalalili
Aksesoris Chiqi dan Anne: Imout (?) Accesories Store
Aku makin tercengang membaca nama fotografernya.
Fotografer: Muhammad Dhani Ar-Rizal
Hah?? Itu kan nama kakak pertamaku, Kak Rizal!! Aku ingat banget dia juga seorang fotografer!! Secepatnya aku berlari ke kamarnya di lantai 2, lalu mengetuknya. "Kak! Kak rizal! Kak! Buka pintu!!" TEriakku sambil menggedor-gedor pintu kamar Kak Rizal. Kak Rizal membuka pintu sambil menggaruk-garuk rambutnya dan menguap. Ups.. Ternyata dia sedang tidur siang. "Apaan sih?" Katanya pelan. "Kak, Kak Rizal, aku mau tanya beberapa pertanyaan ya? Boleh ya?" Kataku sambil mengguncang-guncang bahunya. Ia mengangguk sambil menguap dan merem-melek, maka aku langsung nyelonong masuk ke kamarnya yang lumayan besar itu. Ia mengikutiku, lalu kita duduk di balkon. Aku langsung masuk ke topik pembicaraan. Aku mengangkat majalah CEPRIPIS ke depan muka Kak Rizal sambil bertanya, "Ini kakak yang taro' di kamarku?" KAk Rizal mengangguk. "Iya, itu kiriman dari kantor majalah tempat kakak kerja jadi fotografer, mereka ngirimin majalah sebagai rasa terima kasih soalnya majalah itu laku keras karena hasil foto kakak bagus katanya. Daripada ga kebaca kakak kasi kamu aja, abis itu kan majalah anak SMP." Jelasnya, masih sambil merem-melek. "Ohh.." Balasku. Lalu secepat kilat aku membuka halaman fashion. "Kakak yang foto mereka?" Tanyaku lagi sambil menunjuk foto Chiqi dan Anne. Kak Rizal mengangguk. "Kakak kenal mereka?"Tanyaku. Sekali lagi Kak Rizal mengangguk. "Ohh.. Ya udah kalo gitu. Makasih ya. Selamat kembali tidur." Balasku sambil keluar dari kamar Kak Rizal.
UDah dulu ya. Tapi.. ceritanya belom selesai nih! tunggu chapter berikutnya ya! Arigatou udah mau baca! :D
Chiqi dan Anne mendekat ke Kak Marcell sambil berkata, "Si Liana tuh! Padahal kan kita ada pemotretan nanti, masa' dia egois gitu, katanya kita juga harus bantuin bikin poster? Ga tau apa kita model? Sibuk tau!" Uh, dasar cewek-cewek sok imut, pikirku. Hmm la la la, aku ga mau denger lanjutannya, soalnya pasti kak Marcell belain dua cewek ga mutu itu. Dan bener. Aku duah ga inget dia ngomong apa, yang pasti Kak Marcell mihak Chiqi dan Anne. Ah udah lah. Daripada panjang masalahnya, mending aku ngalah aja.
TIN TIN!!!! "Neng, mau naik ga?" Aku terbangun dari lamunanku. Angkot biru-merah sudah ada di depanku, lengkap dengan supir yang tampangnya marah banget. "Eh, iya bang maaf." Secepatnya aku naik angkot dan angkot itu melaju kencang.
* * *
"Assalamu'alaikum!" Kataku sambil masuk ke rumah. Kulihat kakak keduaku yang sekarang berada di bangku kuliah, Kak Tasya, sedang memasak. Hmm pasti ini sup dengan resep mama. Kecium dari baunya! Kak Tasya memang kuliah pagi, jadi jam 1 siang seperti ini udah pulang. Dengan lunglai karena kepanasan aku masuk kamar sebelum Kak TAsya sempat menjawab salamku. Aku berbaring di tempat tidur, tapi rasanya ada yang aneh di atas bantalku. Uh, apa ini? Loh. kenapa bisa ada majalah disini?
Aku terbelalak membaca nama majalah itu. CEPRIPIS!! Ini nama majalah tempat Chiqi dan Anne jadi model! TAnpa pikir panjang aku membuka majalah itu. Ada muka mereka nggak ya disini? Pikirku/ Aku mencari, mencari, dan mencari, dan... aha! Aku menemukan foto Chiqi berpose dengan dress bunga-bunga merah, dan Anne di sebelahnya memakai dress warna hijaudi halaman "fashion". Ohh.. Jadi mereka betul-betul model.. TApi bukan berarti mereka bisa meninggalkanku dengan seabrek tugas dong! Uang buat ganti beli karton aja mereka ga mau bayar! Huh. Iseng-iseng aku membaca keterangan di halaman majalah paling bawah. Disana tertulis:
Model: Chiqita dan Putri Anne
Dress Chiqi: Bulanbintang Department Store
Dress Anne: Toko Baju lalalili
Aksesoris Chiqi dan Anne: Imout (?) Accesories Store
Aku makin tercengang membaca nama fotografernya.
Fotografer: Muhammad Dhani Ar-Rizal
Hah?? Itu kan nama kakak pertamaku, Kak Rizal!! Aku ingat banget dia juga seorang fotografer!! Secepatnya aku berlari ke kamarnya di lantai 2, lalu mengetuknya. "Kak! Kak rizal! Kak! Buka pintu!!" TEriakku sambil menggedor-gedor pintu kamar Kak Rizal. Kak Rizal membuka pintu sambil menggaruk-garuk rambutnya dan menguap. Ups.. Ternyata dia sedang tidur siang. "Apaan sih?" Katanya pelan. "Kak, Kak Rizal, aku mau tanya beberapa pertanyaan ya? Boleh ya?" Kataku sambil mengguncang-guncang bahunya. Ia mengangguk sambil menguap dan merem-melek, maka aku langsung nyelonong masuk ke kamarnya yang lumayan besar itu. Ia mengikutiku, lalu kita duduk di balkon. Aku langsung masuk ke topik pembicaraan. Aku mengangkat majalah CEPRIPIS ke depan muka Kak Rizal sambil bertanya, "Ini kakak yang taro' di kamarku?" KAk Rizal mengangguk. "Iya, itu kiriman dari kantor majalah tempat kakak kerja jadi fotografer, mereka ngirimin majalah sebagai rasa terima kasih soalnya majalah itu laku keras karena hasil foto kakak bagus katanya. Daripada ga kebaca kakak kasi kamu aja, abis itu kan majalah anak SMP." Jelasnya, masih sambil merem-melek. "Ohh.." Balasku. Lalu secepat kilat aku membuka halaman fashion. "Kakak yang foto mereka?" Tanyaku lagi sambil menunjuk foto Chiqi dan Anne. Kak Rizal mengangguk. "Kakak kenal mereka?"Tanyaku. Sekali lagi Kak Rizal mengangguk. "Ohh.. Ya udah kalo gitu. Makasih ya. Selamat kembali tidur." Balasku sambil keluar dari kamar Kak Rizal.
UDah dulu ya. Tapi.. ceritanya belom selesai nih! tunggu chapter berikutnya ya! Arigatou udah mau baca! :D
Cerpen! OAO AUOO(?) Part 1
Hmm seminggu UAS bikin aku sedikit gila kayaknya. Setiap kegilaan selalu mengandung khayalan, bukan? (soktau) Karena itu, setelah seminggu kegilaan saya di charge(?), sekarang sudah full! YEAY!!! Untuk menyalurkan khayalan maupun kegilaan saya ke arah yang positif(banyak omong lu), sekarang hadirlah saya dalam sampul terbaru(?), cerpen! Oke oke, tanpa berbasa-basi, karena kalo basi nanti ga ada yang mau makan = =" kita mulai saja yaa~ Eng ing eng!
"Liana"
Aku berjalan di siang yang terik ini dengan membawa tas di punggungku. Rambutku terikat dua dengan pita yang warnanya senada dengan rokku, biru. Aku memakai dasi yang kubuat dari pita dengan warna yang sama, biru. Di genggamanku ada sebuah karton besar berwarna putih, yang sesampainya di rumah nanti harus kuubah menjadi poster. Aku cemberut menahan amarahku yang menggebu-gebu.
Ugh, seenaknya saja mereka menyuruhku membuat tugas ini! Pikirku. Anne, Chiqi, AWAS KALIAN! Aku menghentakkan kakiku dengan sekuat tenaga ke tanah. Aku duduk di sebuah batu besar di pinggir jalan, menunggu angkot lewat. "AKU BENCI MOS!!!" Tanpa sadar aku berteriak, mengagetkan tukang becak yang sedang terbang di alam mimpi. Ia kaget, megap-megap, lalu tidur lagi. Segera aku menutup mulutku. Ya, hari ini hari MOS kedua di SMPku, SMP Puja Puji(?). Aku segrup dengan dua orang yang sama sekali tidak kukenal, namun mereka berdua saling mengenal satu sama lain, karena mereka datang dari SD yang sama.
Nama mereka kalau tidak salah yang pertama Putri Anne Mayaningsih, berambut pendek berwarna hitam, tebal dan bervolume. Kulitnya kuning langsat, matanya besar dan berwarna coklat gelap, bulu matanay lentik, dan tingginya kira-kira 145 cm. Dan kau tahu, ia wangi setiap waktu.
Yang satunya lagi bernama Chiqita Dwi Mayla. Rambutnya panjang sampai siku, coklat tua, dan bergelombang. Ia selalu memakai bandana berwarna-warni. Wajahnya seperti orang luar negeri! Bahkan sampai-sampai ada senior yang suka padanya, namanya Kak Marcell.
MEreka berdua sama-sama cantik, sayangnya mereka sombong, jahat, dan menyebalkan! Selama dua hari ini, mereka selalu melimpahkan semua tugas padaku, tidak mau berbagi tugas, bahkan mereka tak sudi berbicara padaku!
Kejadian paling menyebalkan adalah tadi, saat Kak Marcell dan Kak Tristan memberi tugas pada seluruh anak MOS. Mereka menyuruh kami untuk membuat poster tentang MOS. Secepatnya Anne berkata, "Emm.. Li, kamu bisa kan ngerjain tugas ini sendirian? Abisnya aku ada pemotretan di majalah Cepripis(?).." Aku sudah lelah dengan semua ini. Maka aku memukul meja dengan keras sambil membentak, "UH! Apa kalian ga bisa ikut bantu ngerjain? Dari kemaren, aku terus tau yang ngerjain! Enak aja kalian tinggal terima hasil! Aku ga mau tau, kalo kalian ga mau bantu, aku juga ga bakal bikin poster!" Chiqi kaget dan sepertinay tidak terima. "HEH!! Mau kamu apa? Kalo kamu ga mau ngerjain semua, ngapain kamu jadi kelompok kita?" Katanya dengan senyum penuh remeh, dibalas anggukan dari Anne. "Ya kalo aku ga kehabisan ornag buat kujadiin kelompok juga mana mau aku sama kalian?!" Balasku tak mau kalah. Mendengar keributan dari kami, Kak Marcell datang ke arah kami dan bertanya, "Ssst! Berisik banget, ada apa sih?"
hehe, lanjutannya tunggu nanti ya~ HArus kupikirin dulu haha bai bai~
"Liana"
Aku berjalan di siang yang terik ini dengan membawa tas di punggungku. Rambutku terikat dua dengan pita yang warnanya senada dengan rokku, biru. Aku memakai dasi yang kubuat dari pita dengan warna yang sama, biru. Di genggamanku ada sebuah karton besar berwarna putih, yang sesampainya di rumah nanti harus kuubah menjadi poster. Aku cemberut menahan amarahku yang menggebu-gebu.
Ugh, seenaknya saja mereka menyuruhku membuat tugas ini! Pikirku. Anne, Chiqi, AWAS KALIAN! Aku menghentakkan kakiku dengan sekuat tenaga ke tanah. Aku duduk di sebuah batu besar di pinggir jalan, menunggu angkot lewat. "AKU BENCI MOS!!!" Tanpa sadar aku berteriak, mengagetkan tukang becak yang sedang terbang di alam mimpi. Ia kaget, megap-megap, lalu tidur lagi. Segera aku menutup mulutku. Ya, hari ini hari MOS kedua di SMPku, SMP Puja Puji(?). Aku segrup dengan dua orang yang sama sekali tidak kukenal, namun mereka berdua saling mengenal satu sama lain, karena mereka datang dari SD yang sama.
Nama mereka kalau tidak salah yang pertama Putri Anne Mayaningsih, berambut pendek berwarna hitam, tebal dan bervolume. Kulitnya kuning langsat, matanya besar dan berwarna coklat gelap, bulu matanay lentik, dan tingginya kira-kira 145 cm. Dan kau tahu, ia wangi setiap waktu.
Yang satunya lagi bernama Chiqita Dwi Mayla. Rambutnya panjang sampai siku, coklat tua, dan bergelombang. Ia selalu memakai bandana berwarna-warni. Wajahnya seperti orang luar negeri! Bahkan sampai-sampai ada senior yang suka padanya, namanya Kak Marcell.
MEreka berdua sama-sama cantik, sayangnya mereka sombong, jahat, dan menyebalkan! Selama dua hari ini, mereka selalu melimpahkan semua tugas padaku, tidak mau berbagi tugas, bahkan mereka tak sudi berbicara padaku!
Kejadian paling menyebalkan adalah tadi, saat Kak Marcell dan Kak Tristan memberi tugas pada seluruh anak MOS. Mereka menyuruh kami untuk membuat poster tentang MOS. Secepatnya Anne berkata, "Emm.. Li, kamu bisa kan ngerjain tugas ini sendirian? Abisnya aku ada pemotretan di majalah Cepripis(?).." Aku sudah lelah dengan semua ini. Maka aku memukul meja dengan keras sambil membentak, "UH! Apa kalian ga bisa ikut bantu ngerjain? Dari kemaren, aku terus tau yang ngerjain! Enak aja kalian tinggal terima hasil! Aku ga mau tau, kalo kalian ga mau bantu, aku juga ga bakal bikin poster!" Chiqi kaget dan sepertinay tidak terima. "HEH!! Mau kamu apa? Kalo kamu ga mau ngerjain semua, ngapain kamu jadi kelompok kita?" Katanya dengan senyum penuh remeh, dibalas anggukan dari Anne. "Ya kalo aku ga kehabisan ornag buat kujadiin kelompok juga mana mau aku sama kalian?!" Balasku tak mau kalah. Mendengar keributan dari kami, Kak Marcell datang ke arah kami dan bertanya, "Ssst! Berisik banget, ada apa sih?"
hehe, lanjutannya tunggu nanti ya~ HArus kupikirin dulu haha bai bai~
UAS hadadahh -.-
Hai hai hai... Lama tak jumpa blogku sayang(idih). Tenang tenang, aku ga lupa sama kamu kok ehehe. Hari ini aku mau nulis tentang salah satu permasalahan murid yang pernah hidup di dunia(?), UAS. Apa itu UAS? Ujian Akhir Sekolah kah? Atau Ujian Ampun Semaputdah ? (?) Yang mana aja boleh silahkan pilih(apasih).
Hal pertama yang paling ga enak dari UAS adalah BELAJAR KERAS BERBAB-BAB. Ya iya dong, soalnya kan UAS materinya seabreg, apalagi kalo buat pelajaran macam IPA sama IPS. wah, siap-siap begadang aja deh. BElom lagi yang paling ngeselin kalo kita udah belajar ampe ngiler, eh ternayta materi yang keluar cuma seiprit! Aduh itu yang pastinya bakal bikin kita jadi petinju kelas dunia(?), ninjuin orang-orang rumah. Tapi percaya deh, kalau kita belajar pake hati(gayaa) materi-materinya bakal berasa lebih ringan gimana gitu. Kalau masih bingung gimana cara belajar pake hati yang bener(?), coba minta ajarin sama mama, papa, kakak, atau pembantu juga boleh. Apalagi kalau bisa minta sama guru les, wah bakal lebih bagus, soalnya pasti beliau-beliau itu punya trik-trik jitu supaya muridnya bisa pinter. Maka itu aku ga mau jadi guru, abisnya aku kan ga punya trik jitu(?) ehehe.
Pokoknya usahain jangan nyontek deh.. Coba pikir, kalo kita dapet 100 hasil nyontek, ga bakal ada rasa puas setelah berusaha keras dalam hati. Coba, nanti kalo udah kerja mana bisa nyontek, kan? Tapi aku juga ga mau munafik. Aku pernah lah nyontek sama nyontekin orang. Tapi setelah itu ada perasaan(walaupun sedikit) menyesal, kenapa aku ga bisa ngafalin rumus-rumus atau materi itu. Kalian ngerasa gitu ga sih? Kalau kalian udah kebiasaan nyontek, aku punya satu tantangan. Coba pilih satu aja mapel yang kalian paling kuasai. Terus, belajar semua materinya sebelum UAS, pake hati ya jangan lupa hehe. Terus kalian kerjain satu ulangan itu pake apa yang udah ada di otak kalian, hasil belajar kalian itu. Ga boleh ngelirik sedikitpun lo! Terus nanti liat hasilnya. Menurut prediksiku nih, kalo kalian belajarnya pake hati, pasti hasilnay bagus lo! Kalo udah gitu, percaya deh, kalian bakal ngerasa PUAAASSSS banget! Terus ketagihan deh belajar pake hati hehe.
Gimana kalo nyontekin? Hmm halal ato haram ya? hehe. Silahkan tanya ke guru agama masing-masing hehe. Guru SDku pernah bilang, katanya kalo pas ulangan tuh kita harus 'sombong' dikit. Maksudnya, kalo ada yang tanya, kenapa harus takut, TOLAK dong! Enak aja kita udah belajar susah-susah dia tinggal nanya. Tapi, kalo kataku sih kita liat dulu kondisinya si penanya ini. Kalo dia emang males belajar, idih ngapain dikasi contekan. Tapi kalo anak yang nanya ini kondisinya memang ga memungkinkan buat belajar dan kondisinya lagi kepepet banget, boleh lah kita kasi jawaban 1-2 soal. Yaah, itung-itung beramal(apaan?).
Mari kita tutup seputar contek menyontek. Sekarang, hmm apalagi ya? Oh iya. Soal perlengkapan ujian. Dari jaman nenek kita masih TK, ujian selalu memerlukan 3 alat ini: Pensil, Penghapus, Rautan. Usahain, pas ujian jangan minjem alat-alat tulis. Soalnya, kita semua tau kan kalo pas ujian selalu ada pengawas. BEliau punay hak penuh buat nyoret nama kita di kertas ujian atau nulis kalo kita ga tertib atau nyontek selama ujian. Nah, kalo kita pinjem alat tulis ke temen sebelah misalnya, bisa aja dong beliau ngira kita nyontek. Kalo udah gitu, apa yang bakal beliau lakuin? CORET! Wew! Kalo udah gitu gimana dong? Alhasil ga dapet nilai, sayang banget kan? Malahan nih, ada beberapa ujian yang ga ngebolehin pinjem-pinjeman alat tulis, ya karena takut waktu ngasi alat tulisnya itu diselipin contekan. Lagian, kebangetan banget deh kalo ga punya alat-alat yang tergolong murah itu. MAsa' ga bisa nyisihin uang jajan kalian sedikiit aja buat beli 3 alat itu?
Oke kayaknya cukup sekian pembahasanku tentang UAS. Kesimpulannya, belajar pake hati dan modal peralatan kalo UAS, dan bukan ga mungkin kalian bisa sukses tanpa nyontek! Oke, sekian dulu ya. Byebye.. ;)
Hal pertama yang paling ga enak dari UAS adalah BELAJAR KERAS BERBAB-BAB. Ya iya dong, soalnya kan UAS materinya seabreg, apalagi kalo buat pelajaran macam IPA sama IPS. wah, siap-siap begadang aja deh. BElom lagi yang paling ngeselin kalo kita udah belajar ampe ngiler, eh ternayta materi yang keluar cuma seiprit! Aduh itu yang pastinya bakal bikin kita jadi petinju kelas dunia(?), ninjuin orang-orang rumah. Tapi percaya deh, kalau kita belajar pake hati(gayaa) materi-materinya bakal berasa lebih ringan gimana gitu. Kalau masih bingung gimana cara belajar pake hati yang bener(?), coba minta ajarin sama mama, papa, kakak, atau pembantu juga boleh. Apalagi kalau bisa minta sama guru les, wah bakal lebih bagus, soalnya pasti beliau-beliau itu punya trik-trik jitu supaya muridnya bisa pinter. Maka itu aku ga mau jadi guru, abisnya aku kan ga punya trik jitu(?) ehehe.
Pokoknya usahain jangan nyontek deh.. Coba pikir, kalo kita dapet 100 hasil nyontek, ga bakal ada rasa puas setelah berusaha keras dalam hati. Coba, nanti kalo udah kerja mana bisa nyontek, kan? Tapi aku juga ga mau munafik. Aku pernah lah nyontek sama nyontekin orang. Tapi setelah itu ada perasaan(walaupun sedikit) menyesal, kenapa aku ga bisa ngafalin rumus-rumus atau materi itu. Kalian ngerasa gitu ga sih? Kalau kalian udah kebiasaan nyontek, aku punya satu tantangan. Coba pilih satu aja mapel yang kalian paling kuasai. Terus, belajar semua materinya sebelum UAS, pake hati ya jangan lupa hehe. Terus kalian kerjain satu ulangan itu pake apa yang udah ada di otak kalian, hasil belajar kalian itu. Ga boleh ngelirik sedikitpun lo! Terus nanti liat hasilnya. Menurut prediksiku nih, kalo kalian belajarnya pake hati, pasti hasilnay bagus lo! Kalo udah gitu, percaya deh, kalian bakal ngerasa PUAAASSSS banget! Terus ketagihan deh belajar pake hati hehe.
Gimana kalo nyontekin? Hmm halal ato haram ya? hehe. Silahkan tanya ke guru agama masing-masing hehe. Guru SDku pernah bilang, katanya kalo pas ulangan tuh kita harus 'sombong' dikit. Maksudnya, kalo ada yang tanya, kenapa harus takut, TOLAK dong! Enak aja kita udah belajar susah-susah dia tinggal nanya. Tapi, kalo kataku sih kita liat dulu kondisinya si penanya ini. Kalo dia emang males belajar, idih ngapain dikasi contekan. Tapi kalo anak yang nanya ini kondisinya memang ga memungkinkan buat belajar dan kondisinya lagi kepepet banget, boleh lah kita kasi jawaban 1-2 soal. Yaah, itung-itung beramal(apaan?).
Mari kita tutup seputar contek menyontek. Sekarang, hmm apalagi ya? Oh iya. Soal perlengkapan ujian. Dari jaman nenek kita masih TK, ujian selalu memerlukan 3 alat ini: Pensil, Penghapus, Rautan. Usahain, pas ujian jangan minjem alat-alat tulis. Soalnya, kita semua tau kan kalo pas ujian selalu ada pengawas. BEliau punay hak penuh buat nyoret nama kita di kertas ujian atau nulis kalo kita ga tertib atau nyontek selama ujian. Nah, kalo kita pinjem alat tulis ke temen sebelah misalnya, bisa aja dong beliau ngira kita nyontek. Kalo udah gitu, apa yang bakal beliau lakuin? CORET! Wew! Kalo udah gitu gimana dong? Alhasil ga dapet nilai, sayang banget kan? Malahan nih, ada beberapa ujian yang ga ngebolehin pinjem-pinjeman alat tulis, ya karena takut waktu ngasi alat tulisnya itu diselipin contekan. Lagian, kebangetan banget deh kalo ga punya alat-alat yang tergolong murah itu. MAsa' ga bisa nyisihin uang jajan kalian sedikiit aja buat beli 3 alat itu?
Oke kayaknya cukup sekian pembahasanku tentang UAS. Kesimpulannya, belajar pake hati dan modal peralatan kalo UAS, dan bukan ga mungkin kalian bisa sukses tanpa nyontek! Oke, sekian dulu ya. Byebye.. ;)
Langganan:
Komentar (Atom)