Jangan bosen sama tokoh Liana ya, ceritanya bentar lagi abis kok, hehe.
Dari jam 2 siang tadi sampai sekarang, jam 7 malam, aku masih saja menatap karton putih besarku yang kosong di meja belajarku. Aku mengetuk-ketukkan beberapa spidol di genggamanku ke meja belajar, sambil memikirkan mau membuat poster seperti apa.
"Hai cewek, makan malam dulu yuk?" Kata Kak Tasya sambil menjulurkan kepalanya di pintu kamarku. Aku memalingkan badan untuk menatapnya dan berkata, "Ah, sebentar lagi ya, kak. Aku lagi ngurus tugas nih." Kak Tasya masuk dan menutup pintu. "Tugas apa sih?" Katanya sambil menatap karton kosongku. "Poster." Jawabku cepat. "Perasaan kakak, kalo tugas kayak gini pas MOS ada kelompoknya deh." Katanya sambil menerawang ke masa SMPnya. Aku berjalan gontai ke arah tempat tidur dan menghempaskan diriku ke tempat tidur itu. Kak Tasya mengikutiku. "Iya, emang kelompokan. Tapi kelompokku ga ada yang mau ngerjain tugas, sebel banget kan? Bahkan biaya karton ini aja juga ga mau patungan." Kak Tasya berguling lalu menatapku. "terus ngapain masih dikerjain tugasnya?" Katanya sedikit kesal. Aku mengangkat bahu sambil duduk. "YAh, mau gimana lagi. Mereka bilang mereka sibuk, sibuk jadi model majalah. Akhirnya sama kakak pembina aku deh yang suruh ngerjain sendiri."Kataku merengut.
Kak Tasya minta ditunjukkan majalah dimana Chiqi dan Anne menjadi model, lalu ia tersenyum remeh sambil berkata, "Hah? Foto cuma sekali doang kayak gini mah setengah jam selesai! Loh, ini yang foto Kak Rizal?" Aku mengangguk. Orang yang baru disebut namanya itu muncul, Kak Rizal. "Woi, masa' aku makan sendiri sih? Ayo dong pada makan semua! Sya, mama papa belum pulang?" KAk Rizal ikut-ikutan ke tempat tidurku. Kak Tasya menggeleng cepat. "Oh iya, Li, tadi siang tumben kamu nanya-nanya?" Tanya Kak Rizal lagi. Kak Tasya menceritakan masalahnya.
"Oh, jadi dua model cacing itu temen kamu, Li?" Tanya Kak Rizal setelah Kak Tasya bercerita. Spontan aku dan Kak Tasya tertawa terbahak-bahak. "Hah, CACING?" Kata kami nyaris serentak. Kak Rizal mengambil camilan di lemari 'rahasia' di kamarku untuk menyimpan camilan tanpa sepengetahuan orang tuaku(hehe) lalu duduk lagi di tempat tidur. "Iya, abisnya mereka tuh lebay banget gayanya. Cara ngomong mereka alay pula! Ih amit-amit deh. Yang paling parah, kalau aku dateng atau mereka dapet bagian foto sama artis, uah bisa jingkrak-jingkrak jerit-jerit mereka! Gara-gara kebanyakan tingkah itu, makanya aku dan semua kru Cepripis julukin mereka 'cacing'." Aku dan Kak Tasya hanya mengangguk. Jadi Chiqi dan Anne ngefans sama kakakku? Aku cekikikan sendiri. Yah, memang kakakku pinter banget motretnya, udah gitu bisa dibilang cukup keren lah.
Kak Tasya dan Kak Rizal yang kasihan padaku membantuku mengerjakan poster. Fiuh, untung ada Kak Tasya yang kuliah jurusan seni rupa dan Kak Rizal yang pinter gambar, posterku jadi bagus. Kurang dari satu jam sudah jadi. Di belakang poster kutulis 'Regu Kelinci-Gugus Biru'. "Aku masih sebel sama tingkah dua cacing itu." Tiba-tiba Kak Rizal angkat bicara. "Bener tuh, aku juga. Kita harus kerjain mereka! Biar kapok hihihi" Balas Kak Tasya. Kak rizal mengangguk pelan, sementara aku mengangguk cepat. Mereka memang menyebalkan! Sekali-sekali boleh dong ngerjain orang? Hehe. Lalu kami menyusun rencana untuk mengerjai mereka.
Chapter klimaksnya sebentar lagi kubikin ya.. :D Semoga suka! >w<
Tidak ada komentar:
Posting Komentar