Sabtu, 08 Januari 2011

another short story :D

Udah ah aku ga mau bikin cerpen lagi ttg kehidupannya liana, masalahnya gimana bikinnya coba? Huuu Bцц.(y)bųebye liana :'( walaupun cm karakter buatanku sendiri tapi kok aku ikut sedih ya? Hadahh lebay --"
Nah skrg lanjut ke topik :D makanya skrg aku mau buat cerpen di kehidupan karakter lainnya, semoga kalian yang baca(itu klo ada :p) suka ya :D
Mulai!
"Erika dan Erinda"
"Rin! Ayo bangun! Sahur dulu.. Nanti keburu subuh lo." Kata gadis muda berjilbab itu pada kembarannya yang sedang tertidur pulas. Ia mengguncang-guncang tubuh kembarannya itu sambil sesekali membisikkan kata-kata untuk membangunkan kembarannya itu di telinganya. "Hmm... Klo subuh ya udah subuh aja" balas kembarannya dengan mata masih terpejam. Akhirnya perempuan berjilbab itu keluar dari kamar kembarannya dan menuju ke meja makan, dimana orang tuanya makan sahur.
"Gimana Rik? Rinda mau bangun?" Tanya sang ayah. Perempuan berjilbab bernama erika itu menggeleng lemas. "Duuh, anak itu dari dulu selaluu begitu. Ga mau sahur, terus nanti puasanya ga kuat, eh mokel deh. Padahal udah sma lo.."Kata sang bunda. "Waktunya tinggal sedikit, biar papa yg coba bangunin rinda. Kalian makan duluan aja deh." Kata ayahnya yang lalu masuk ke kamar kembaran erika, erinda. Di sana ayahnya menggeleng melihat anaknya masih tidur memeluk guling dengan tank top dan celana pendek. Lalu dengan lembut ia menepuk pipi anaknya lalu sang anak duduk. "Kenapa sih pa? Rinda capeknih, kan kemaren pulang malem abis cari sepatu buat cheers.. Biarin rinda tidur sekarang ya, rinda janji ga bakal mokel deh.." Sang ayah membalas "ga mungkin deh kamu ga mokel nak.. Gapapa kan sahur cm sebentar ini.." Akhirnya erinda berjalan gontai ke meja makan lalu duduk dan makan dengan mata yang masih setengah terbuka.
~bersambung~

Sabtu, 01 Januari 2011

Cerpen baru~ Part 5

ya ampuun... aku bener2 ga tega bikin part terakhir ini.... tapi I hope you like it :')
          Darah berceceran dimana-mana. Aku bingung harus berbuat apa. Seketika, airmata menetes dari mataku, dan aku langsung berlari, menggendong Liana, dan membawanya ke rumah sakit bersama Chiqi. Kami berlari sambil menyetop setiap taxi yang lewat, berharap salah satu taxi itu mau mengantar kami ke rumahs akit terdekat. Tapi, melihat darah Liana saja mereka sudah tutup pintu. terpaksa kami berlari sekencang mungkin menuju rumah sakit. Jantungku berdebar cepat. Ya Allah... Selamatkan Liana...
                                                                              * * *
          Aku, Chiqi, Anne, dan keluarga Liana menunggu dengan gelisah di depan UGD. Sesekali salah satu dari kami mengintip dari celah kaca, namun tertutup oleh badan suster atau dokter. Air mata masih terus menetes diselingi isak tangis dariku. Sungguh memalukan menangis seperti ini, apalagi bagi seorang laki-laki sepertiku. Tapi setiap aku mencoba berhenti, aku kembali teringat akan gadis di ruang UGD itu. Dialah gadis yang aku suka sejak SD, sahabatku juga seseorang yang kukagumi. Aku benar-benar tidak mau kehilangannya. Aku menatap jam dinding. Sudah 5 jam sejak kami berlari dan membawanya ke ruang UGD. Apa dia akan selamat?
          Seorang dokter keluar. Aku dan orang-orang lain berlari ke arahnya, untuk mengetahui kabar dari Liana. Dokter memasang tampang pasrah dan berkata pelan, "Nona Liana ingin bertemu kalian." Lalu ia permisi dan pergi. Kami segera masuk ke ruangan itu. Melihat Liana terbujur lemas membuatku ingin menetskan air mata lagi, dan aku memang melakukannya. Kami mengelilingi ranjang Liana dan tersenyum. ia membalas senyuman kami dengan senyuman penuh kehangatan. Lalu ia melihatku, dan raut wajahnya menjadi sedih. "Do, kamu nangis?'' Katanya. Aku mengusap air mataku lalu tersenyum. "Aku cuma khawatir aja." Lalu Kak Tasya angkat bicara, "Li, gimana perasaanmu?" Liana menjawab sambil menerawang, "Rasanya tenang dan damai." Entah mengapa perasaanku jadi ga enak. Aku harus mengatakan hal penting itu sekarang! Sebelum kemungkinan paling buruk terjadi...
          "Mama dan keluarga yang lain keluar dulu ya, sayang." Kata Mama Liana dengan mata berkaca-kaca, Liaan lalu mengangguk, dan mereka keluar. Sekarang tinggal aku, Anne, Chiqi, dan Liana. Chiqi menatapku seperti meminta kepastian, lalu aku mengangguk mantap. Chiqi dan Anne lalu mundur sedikit jauh dari ranjang itu. Inilah saatnya..
          "Li, aku bener-bener minta maaf. Tadi aku ga ada maksud mesra-mesraan sama Chiqi, beneran! Aku cuma mau hibur dia, dia lagi bener-bener terpuruk, Li!" Jelasku. Lalu Liana menjawab dengan sangat perlahan, suaranya seperti tercekat, seperti mau habis. "Ga, aku ngerti kok. Aku percaya sama kalian, kalo terjadi sesuatu diantara kalian pasti kalian ga akan main di belakangku dan Anne. Kalian pasti udah bilang dari kemaren-kemaren." Jawabnya, lalu ia meringis.
          "Li, aku pingin ngomong sesuatu yang serius. Akhir-akhir ini, kamu sering liat aku bareng-bareng Chiqi, kemana-mana sama dia. Semua yang aku lakuin sama dia itu ga lain dan ga bukan(?) adalah buat nyiapin pengungkapan perasaanku sama kamu, Li(wos!). Tapi, aku ga nyangka semua jadi kacau kayak gini. Jadi, aku cuma mau bilang kalo aku bener-bener minta maaf dan... aku suka kamu." Tuturku panjang lebar. Jantungku berdebar kencang, melihat raut wajahnya berubah menjadi jauh lebih tenang. Setetes air mata meluncur dari mata ke pipinya. "Aku seneng hari ini, ada semua orang yang aku sayangi. Ada kakak, mama, papa, sahabat, dan cowok yang aku suka. Aku suka kamu, Do." Lalu ia tersenyum manis. Perasaanku campur aduk, antara senang, khawatir, dan bingung. Tapi, perasaan yang paling mendominasi(?) saat ini adalah perasaan khawatir yang begitu besar buatnya.
          "Ya, makasih buat kalian semua. Langit juga kelihatan indah malem ini." Bisiknya, lalu melihat langit malam yang penuh bintang dan satu bulan bersinar cerah dari jendela ruang UGD. Aku mengikutinya. "Ya, kamu bener, Li. Malem ini indah banget."Lalu aku berpaling padanya, tapi ia sudah memejamkan matanya dan bibirnya tersenyum. Apa dia tidur? Tapi.. Saat aku liat alat pengukur detak jantung, hanya garis lurus yang terlihat disana. "Li, Li, LIANA!!!!!! Bangun, Li!!!! DOKTER!!! DOKTER!!!!!!" Teriakku sambil mengguncang-guncang badan Liana, lalu menekan alarm untuk memanggil dokter atau suster. Tak lama kemudian seorang dokter dan dua suster datang. Mereka memintaku, Chiqi, dan Anne keluar. Kami menangis di luar, kami juga berdoa. Keluarga Liana yang menunggu di laur juga melakukan hal yang sama. Kami saling menggenggam tangan satu dengan yang lain.
          Dokter keluar dengan wajah lebih pasrah dari sebelumnya. Ia bahkan tak melihat kami sedikitpun. "Kami mohon maaf sebesar-besarnya, tapi kami tak dapat menyelamatkan nyawa Nona Liana. Kalian yang sabar, ya." Lalu dokter itu pergi dengan raut wajah penuh kesedihan. Kami segera meluncur ke dalam ruang UGD dan memeluk erat jenazah Liana. "Li.. kenapa kamu pergi begitu cepat, sayang?? Coba tadi mama berhasil mencegahmu pergi ke sekolah.." Kata mama Liana sambil terus menciumi tangan Liana sambil menangis tersedu-sedu. Yang lainnya melakukan hal yang sama, menangisi Liana. Tapi semua sudah terlambat, tak ada yang bisa mengubah takdir kalau seorang gadis ceria yang penyayang dan bersahabat bernama Liana, baru saja kembali ke sisi-Nya. "Udah semua, sekarang Liana udah tenang. Dia udah terbebeas dari segala beban duniawi yang ditanggungnya. Kalau kita menangisinya, kita justru akan menghambat jalannya.."Kata Anne dengan suara pelan, sambil mengusap air matanya. "Kamu bener, Ne. Kita ga boleh terus-terus tangisin dia, kita harus ikhlas.."Sambung Kak Rossa. Ya, ikhlas... Aku akan berusaha mengikhlaskan kepergianmu, Li..
                                                                          * * *
          Kami berdiri mengelilingi sebuah makam yang baru saja dibuat, makam sahabat kami, keluarga kami, dan adik kami, Liana Pramesthi. Wajah cerianya kini tak akan terlihat lagi, senyum indahnya kini takkan bersinar lagi, dan langkah mantapnya menjalani hari tak akan terasa lagi. Kami pasti akan merindukan suara indahnya, tutur manisnya, dan kecerobohannya. Marahnya, jengkelnya, dan semua tentangnya. Ya, kami akan sangat merindukan Liana. Semua itu memang takkan terlihat, terdengar, dan terasa lagi. Tapi, akan selalu ada dalam hati kami. Liana begitu berjasa bagi hidup kami. Ia menyadarkan Chiqi dan Anne kalau sikap mereka tak benar, ia membujuk mama dan papanya agar mau memasukkan kakak perempuannya ke jurusan yang ia inginkan, ia mempertemukan kakak lelakinya dengan jodohnya, ia mendamaikan pertengkaran antara dua orang tuanya, dan ia memberikan seorang teman, teman yang tak akan bisa dilupakan, bagi seorang lelaki bernama Aldo ini. Li, kamu harus inget kalau kita ga akan lupain kamu. Kamu akan selalu ada di hati kita, sampai ajal menjemput kita semua.... Selamat tinggal, Liana Anindita Pramesthi....
~THE END~

Kamis, 30 Desember 2010

Cerpen baru~ Part 4

          Upacara pernikahan berlangsung dengan sangat khidmat dan mengharukan. aku sampai menangis dibuatnya, tapi Chiqi dan Anne berpesan kalau air mataku jangan sampai jatuh, takut make upku rusak. jadi aku hanya menangis dalam hati(?). Sepulang Ijab Qabul, kami langsung cabut(?) ke tempat resepsi. Bajuku diganti dengan gaun yang lebih modern. Huh, hari ini sangat melelahkan. Tetapi, aku senang karena semua berjalan lancar. Tempat resepsinya berada di sebuah landed apartment milik sepupu Kak Rossa. Kita menyewa rumah khusus pesta. Wah, tempatnya sangat bagus sampai aku berharap bisa tinggal disitu terus.
          Seselesainya resepsi, Kak Rizal dan Kak Rossa menginap di rumah khusus pesta itu, sementara yang lain pulang. resepsi selesai pukul 7 malam, jadi aku, Chiqi, Anne, dan Aldo menyempatkan diri pergi ke cafe terdekat untuk membahas banyak hal. Pembahasan berlangsung sangat seru sampai Aldo mengajak Chiqi pergi ke meja paling ujung dan memintaku dan Anne untuk tidak ikut kesana. Di sana kulihat mereka berbicara sangat serius, sesekali Chiqi berkata "Ciee" lalu Aldo tertawa. Aku dan Anne memilih pulang duluan. Kebetulan aku memang sudah merencanakan untuk menginap di rumah Anne, jadi kami meminta ayah Anne untuk menjemput di cafe dan segera pulang tanpa sepengetahuan Chiqi dan Aldo. Aku benar-benar merasa terkacangi oleh mereka! Huh seenaknya saja berduaan padahal ada aku dan Anne.
                                                           * * *
          Aku dan Anne sedang bercanda di kamarnya saat tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar Anne dengan keras. Anne secepatnya membuka setelah sebelumnya ia mengambil pemukul baseball, olahraga kesukaannya, jaga-jaga kalau yang diluar kamarnya saat ini adalah seorang pencuri atau apapun yang negatif. Ternyata itu Chiqi dengan tampang cemberutnya. "Kalian kok gitu sih? ninggalin aku sendirian di cafe??" Chiqi langsung nyelonong masuk dengan tas ranselnya. "Untung ada Aldo yang mau nganterin ke sini."Katanay setelah duduk di sebelahku di tempat tidur.
          Aku langsung berdiri, aku kembali PANAS. "terus aja, Aldo. Aldo, aldo, aldoooo terus." Kataku sambil menajuh darinya. "Iya, kita dikacangin terus! Ga sopan tau!" Sambung Anne yang baru menutup pintu kamar. "Loh, kenapa? Kalian cemburu?" Kata Chiqi santai. Kurasakan pipiku memerah, meka dari itu aku melangkah cepat ke kamar mandi dan mencuci muka. Sepertinya Anne dan Chiqi bertengkar hebat di luar, aku tak tahu apa yang mereka bicarakan. Aku keluar setelah cuci muka dan gosok gigi. Lalu kami segera tidur.
                                                                           * * *
          Keesokan paginya, kami mencoba melupakan kejadian kemarin malam dan pergi ke mall. Rasanya nyaman bisa berbaikan dengan dua sahabatku. Setelah itu, aku dijemput Kak Tasya, dan kami menghabiskan waktu di rumah, memasak puding coklat, makanan kesukaan papa. besok hari senin, hari yang paling bikin males. Aku tidur jam 8.30 dan bangun keesokan paginya pukul 5 pagi.
          Setelah bersiap-siap, aku berangkat ke sekolah bersama papa dan Kak Tasya, namun sebelum itu aku pamit pada mamaku. tiba-tiba mamaku menggenggam tanganku erat dan melarangku untuk melepasnya. "Ma, aku mau ke sekolah.." Kataku. Mama menggeleng. "Jangan nak. Hari ini kamu di rumah aja ya. Perasaan mama ga enak nak.." Kata beliau. "Ih, mama bikin takut aku aja. Udah lah ma, itu kan cuma perasaan. Lagian hari ini aku ada ulangan. Udah dulu ya ma, keburu telat!" aku melepas tangan mamaku paksa dan berlari menuju mobil, walaupun sebenarnya perasaanku juga sama dengan mama.
          Ulangan berjalan lancar. Untung saja kemarin aku sudah minta diajari papa yang pintar matematika. Sepulang sekolah, aku mengantar Anne ke pinggir jalan untuk menunggu jemputannya. Mobil ayah Anne datang lalu tiba-tiba gerimis. Ayah Anne membuka jendela mobilnya dan berkata, "Li, bareng Anne aja yuk! Kamu dijemput?" Aku menggeleng. "Nggak usah om, Li nunggu bemo aja om makasih.." Anne menyaut, "Yakin? Bentar lagi kayaknya bakal deres lo.." Aku mengangguk mantap sambil tersenyum, "Yakin. Udah sana jalan! hahahah" Lalu mobil itu berjalan menjauh. Aku memutuskan untuk ke kantin dan membeli segelas teh.
                                                              * * *
          "Do, kayaknya bakal deres nih! Mending udahan aja main basketnya ya! Gw pulang dulu!" Kata Arif, teman main basketku. Duh, sekarang ngapain ya? ga mungkin aku naik motor pulang sekarang. Bisa-bisa basah kuyup, terus motorku rusak. Aku memutuskan untuk memutari sekolah. Aku sampai di halaman belakang sekolah ketika aku mendengar suara tangis seorang perempuan. Dih, siapa ya? Jangan-jangan yang diceritain Li bener lagi, disini ada hantu! Mendadak aku merinding, apalagi saat suara itu berkata, "Aldo, itu kamu?" Aku menjerit. "Do, ini Chiqi.. Kamu apaan sih?" Kata suara itu. Aku mengelus dada lalu menghampiri suara itu. Chiqi sedang duduk di kursi taman belakang sekolah dengan selembar tissue di tangannya dan mata sembab. "Kamu kenapa?" Aku segera menghampirinya. "Nggak, nggak apa-apa." Katanya sambil mengelap airmatanya yang mulai jatuh lagi. "Eh, ayo cerita! Aku ga suka penasaran." Kataku memaksa. "Janji kamu ga bilang siapa-siapa?" Katanya sambil berbisik. Aku mengangguk.
          "Ayahku bangkrut. Perusahaannya udah nggak sanggup bayar utang dari bank lagi, dan 2 hari lagi rumah kita mau disita beserta isi-isinya. Aku ga tau harus ngapain lagi, do! Mungkin abis ini aku ga bakal punya uang buat sekolah.." Katanya masih berbisik. Ia menangis sesenggukan. "Udah gapapa. Hidup kamu belum berakhir, Chiq. Kamu masih punya aku, Li, Anne, dan banyak orang lain yang peduli sama kamu. Kita pasti bakal bantu kamu nyelesain masalah ini!" Kataku menenangkannya. "Iya, aku ngerti. Makasih ya, do. Do, aku boleh nyender sebentar ga? Aku butuh seseorang yang meu meminjamkan behunya buat aku di masa-masa sulit kayak gini." Balasnya, Aku mengangguk dan ia nyender (?). Tiba-tiba, aku mendengar suara gelas terjatuh dan suara kaki berlari. Aku segera menoleh ke arah suara itu, dan ternyata itu Li! Terlihat dari tasnya yang berwarna merah tua. Aku segera mengejarnya, begitu pula Chiqi. Aku menggenggam lengannya. "Li, kenapa sih?" Wajahnya keliatan marah, matanya sembab. "Sana gih!!! Mesra-mesraan sama Chiqi!!! Aku ga bakal ganggu kalian!!!" ia mencoba melepaskan tangannya, tapi tak bisa. Akhirnya dengan kekuatan penuh, ia berhasil melepaskan genggamanku dan terlempar ke jalan raya. Ia terduduk sambil menangis disana, mencoba berdiri tapi sepertinya ia terjatuh sangat keras. Saat ia baru berhasil berdiri, ada sebuah mobil melaju kencang, dan.....

Kamis, 23 Desember 2010

Cerpen baru~ Part 3

Liana Sekuel Part 3
          Keesokan paginya, aku nyaris terlambat datang ke sekolah. Aku berlari saat pak satpam nyaris menutup gerbang. Aku melesat ke kelas dan,... "umm.. pak! Maaf saya terlambat, tadi jalanan macet." Kataku sambil menyalimi tangan pak tono, guru matematika. "Kamu itu ya.. Liana Anindita Pramesthi, kamu selalu terlambat! Sudah, kamu saya persilahkan duduk." Balas guru matematika itu. Lalu aku berterima kasih dan berbalik arah ke tempat duduk murid. Saat itulah aku melihat 'pemandangan'. Anne duduk sendiri, sementara Chiqi duduk dengan.. aldo. Perasaan aneh itu muncul kembali, dan untuk menghilangkannya aku tersenyum kepada Anne dan duduk di sebelahnya. Saat istirahat, kami pergi ke kantin untuk makan(YA IYALAH). Sambil makan, aku memberikan mereka sesuatu. "Wah, Kak Rizal mau nikah ya?" Kata Aldo. "Wah, ganteng ya fotonya." Kata Anne yang disambut jitakan yang sangat sukses dari Chiqi. "Makasih ya udah ngundang kita, Li." Kata Chiqi. "Oke, tapi kalian dateng lo ya? Awas kalo ga dateng, kujitakin satu-satu lo! hahaha" KAtaku yang dibalas dengan ucapan serempak dari mereka "BERES!"
                                                               * * *
          Hari besar itu akhirnya tiba. Aku sekarang sedang memejamkan mataku karena adik Kak Rossa, Kak Mela, sedang memoleskan eyeshadow di kelopak mataku. Aku sungguh gugup, takut akan mempermalukan semua orang. Apalagi, aku memakai selop yang sangat bagus. Aku takut karena tingkahku yang brutal(?) yaitu suka berlari-lari, aku akan merusak selop ini, juga jarik yang kupakai. Setelah selesai di make up, Kak Mela yang berumur 20 tahun menyuruhku membuka mata. Aku sungguh sangat takjub. "Hei cewek cantik." Katanya sambil mengedipkan sebelah mata. Ia membuat rambutku yang bergelombang jadi makin bergelombang, merias wajahku jadi.. jadi,, ah aku tak sanggup berkata-kata. "Kak Mela, makasih banget kak!" Kataku sambil menyalami tangan Kak Mela. Ia tertawa kecil. Aku keluar dari ruang rias disambut orang-orang, yaitu mama, Kak Tasya, Chiqi, Anne, dan Aldo. "Waw, ada model nyasar nih.." Kata Anne. "Hmm anak mama udah gede." Kata mama. "Adekku juga tuh,, hihihi." Sambung Kak Tasya. "hai cewek!!" sapa Chiqi sambil tertawa kecil. "Sahabatku emang cantik banget." Kata Aldo penuh senyum.

Rabu, 22 Desember 2010

Cerpen baru~ Part 2

Lanjutannya Liana Sekuel~
          Aku menatap bayanganku di cermin. Waw. Apa ini aku? "Wah, adekku udah gede, ya! Cantik, Li." Kak Rizal menghampiriku dengan setelan jas warna emas. Aku sedang fitting baju untuk pernikahan Kak Rizal. AKu memakai kebaya dengan atasan berbordir bung-bunga yang sangat elok berwarna emas, dan jarik berwarna coklat. Rambutku yang hitam tebal panjang sampai siku dan bergelombang kubiarkan terurai. Ya, aku sangat berbeda dengan baju ini. "Terima kasih." Balasku, lalu aku berbalik arah menatap Kak Rizal yang kelihatan keren dengan bajunya. "Hmm.. Ga kerasa ya kak, 9 hari lagi kakak udah berkeluarga. Dan kita ga bakal tinggal serumah lagi. Kakak udah dewasa sekarang, beda sama yang dulu. Jaga Kak Rossa baik-baik ya kak" Aku menepuk bahu kakakku itu, lalu ia memelukku. "Iya, adek kecil." Katanya sambil mencubit pipiku.
          Kak Tasya dan mama tak kalah cantiknya denganku. apalagi Kak Rossa. Ia terlihat seperti seorang putri raja dengan kebaya yang sangat serasi dengan setelan jas Kak Rizal! Papa juga terlihat gagah dengan setelan jasnya. Aku bahagia mempunyai keluarga seperti ini. Hubungan kami sangat erat, seerat pasangan sahabat. aku sayang kalian semua, keluargaku.
                                                                              * * *
          Uaaah... Aku terbangun karena cahaya matahari yang begitu silau pagi ini. Kulihat jam tanganku. HAH! Jam setengah 8! Aldo sampai di sini jam setengah 9, dan rumah jauh dari airport! Aku segera berlari ke kamar mandi, memakai baju seadanya dan melesat dengan mobil Kak Tasya ke airport. Hari ini aku akan bertemu sahabatku dari SD, Aldo Rahman Yudhadhika. Aku harus tepat waktu! Di perjalanan, hpku berbunyi, ada telepon dari Chiqi. Aku mengangkatnya. Ia berkata sebentar lagi ia dan Anne akan sampai ke airport. Ia juga menanyakan dimana aku, dan aku menjawab kalau aku baru masuk tol. Ia kaget dan marah-marah. Aku mempercepat laju mobilku, dan untungnya tak ada polisi atau banyak mobil disini. Aku juga tak punya SIM, karena baru 16 tahun hehe. Tapi Kak Rizal berbaik hati meminjamkan SIM dan mobilnya padaku, alasannya karena ia percaya padaku, dan ia juga berkata bahwa aku sangat mahir dalam mengendarai mobil.
          Tak lama aku sampai di airport. Secepat kilat aku turun dari mobil, menguncinya, dan melesat ke dalam gedung. Aku mencari dimana-mana tapi tak juga menemukan Aldo. Setelah 10 menit aku mencari, aku bertanya pada informasi. "Mbak, pesawat Guahiro(?) Airlines yang dari jerman sudah mendarat belum? Kok saya ga nemu temen saya ya?" Mbaknya menjawab dengan tawa kecil. "Mbak ini gimana sih? Ya ga ketemu lah mbak, ini kan tempat kedatanagn dalam negeri." Aku menepuk dahiku dan berterima kasih pada mbak informasi. Aku melesat menuju tempat "Kedatanagn Internasional", lalu aku melihat sebuah pemandangan. Di deretan kursi, aku melihat ada buku jatuh, Chiqi mencoba mengambilnya, dan tangannya yang sudah memagang buku dipegang juga oleh seorang laki-laki yang sepertinya juga hendak mengambil buku itu.
          Wajah lelaki itu tidak asing. Itu,...ALDO! MEndadak ada perasaan marah yang muncul, tapi langsung kutepis. Aku berlari ke arah mereka dan berkata dengan keras, "HEI!!! Maaf ya aku terlambat, tadi kesiangan!" Mereka melihatku dengan tatapan aneh. Aldo memicingkan mata lalu tersenyum ceria, "LIANA!!" Katanya lalu memelukku. "Kamu tinggi ya, sekarang! Tapi tetep.. Masih lebih tinggi aku! Hahahha" Katanya sambil nyengir. Aku menjitaknya pelan. "Kalian sudah saling kenal?" Tanyaku sambil melihat ke arah Aldo-Chiqi. Mereka mengangguk serempak. Tak lama Anne datang dari arah toilet. "Hei Li! Dari mana aja sih? Lama banget" Katanya. Aku menceritakan pagiku. Setelah itu, kami bersenang-senang seharian sebelum besok mulai sekolah.

Cerpen baru~ Part 1

          Fiuh, akhirnya minggu ini masuk minggu-minggu tenang(apamaksudnya). Tadi pagi baru rapotan, aku peringkat 9! hah lumayan lah. Semakin bertambahnya usia, sayya mau bikin cerpen dengan konflik lebih berat(?) dan sedikit, sediiiikiiiiiiittttttt ada cinta2annya OTL OTL orz. tapi tenang, ga akan fokus ke cinta2an itu. Selamat kembali bosan ya(?) soalnya aku mau bikin cerpen tentang tokoh kita yang lama, si Liana lagi. Tapi, sekarang dia udah SMA kelas 2. Oke, tanpa perlu berbasah-basah lagi(?), soalnya udah ga hujan(?). Oke, selamat menikmati hidangan(??)
                                                                   "Liana (Sekuel)"
Aldo Yudhadhika has joined the chatroom.
Aldo Yudhadhika: Hai cewek-cewek :3
Liana Pramesthi   : Hei, Al!
Chiqita Mayla      : Halo :)
Putri Anne           : Aloha~
Liana Pramesthi   : Kamu jadi balik ke Indonesia kapan, Al?
Aldo Yudhadhika:  Kira-kira 3 hari lagi
Putri Anne           : What? 3 hari lagi? Ewewew
Chiqita Mayla      : Kamu bakal sekolah dimana nanti, Al?
Aldo Yudhadhika: SMA Langit Cerah (?)
Chiqita Mayla     : Eh?? Itu sekolah kita tau!
Aldo Yudhadhika: Yakin?
Chiqita Mayla      : Banget!
Putri Anne           : Wah bagus dong kita jadi bisa ketemu kamu, Al! Kita susah bayangin kamu cuma dari      deskripsinya Liana aja
Chiqita Mayla      : Iya Liana deskripsiinnya ga jelas! Hahahha
Liana Pramesthi   : Yeee, orang udah jelas banget! Kalian aja yang ngelamun waktu aku jelasin. Wah, asik dong kita satu sekolah, aku jemput kamu ke bandara ya? Sekalian nagih oleh-oleh dari Jerman hehehe.
Putri Anne           : Cuit cuiiiiiiittttttt = 3 =
Chiqita Mayla      : Ne, kayaknya kita tinggal aja deh, biar berduaan! hahahah
Liana Pramesthi   : Ih apaan sih? = ="
Putri Anne           : ayuk, ayuk.... ;)
Aldo Yudhadhika: HUSH
          "Li..! Ayo makan dulu!!"Teriak mama dari meja makan. Aku segera mematikan laptop yang dari tadi siang kunyalakan dan berjalan menuju meja makan. Kulihat ke jendela dan terbelalak melihat langit sudah gelap saja. "Loh udah malem?" Tanyaku spontan. "Hhhh... Ga nyadar waktu sih kalo chatting... Dari jam 12 sampe jam 7 loh ma!" Kata Kak Tasya sambil membawa nasi goreng yang baru dimasak ke meja makan. "Iya nih.. Oh iya, abis ini kita sama-sama fitting baju ya, kan pernikahannya Kak Rizal tinggal 9 hari lagi.." Balas mama sambil menyantap nasi goreng buatan Kak TAsya. Beliau lalu mengacungkan jempol ke arah Kak Tasya yang dibalas dengan senyuman Kak Tasya. "Sip.. Eh, papa sama Kak Rizal mana?" Tanyaku sambil celingak-celinguk mencari keberadaan dua makhluk yang sedari tadi nggak keliatan itu. "Papa sama Kak Rizal udah berangkat duluan.. Soalnya mereka mau cek gedung buat pernikahan Kak Rizal dulu katanya, sama mau nyamperin keluarganya Kak Rossa." Jawab kak Tasya.
          4 tahun berlalu sejak aku mendapatkan dua sahabat baik yang sampai sekarang sekelas denganku, Chiqi dan Anne. Sekarang Kak Rizal sudah berusia 26 tahun dan 9 hari lagi akan menikah dengan rekan kerjanya di Majalah Cepripis, Kak Rossa, wanita cantik dan baik ahti yang juga sahabat baikku. Sementara Kak Tasya, sudah berusia 22 tahun, baru lulus kuliah dan mulai serius dengan pacarnya, Kak Fandi, yang merupakan teman kuliah Kak Tasya. Sementara aku? Aku sudah berusia 16 tahun sekarang, SMA kelas 2 dan bahkan belum punya pacar. Tapi aku tetap senang karena Chiqi dan Anne bersedia menunggu sampai aku punya pacar duluan, walaupun banyak anak yang pernah nembak mereka. Aku benar-benar sayang sama dua sahabatku itu. "Eh, mama, 3 hari lagi Aldo mau pulang ke Indonesia lo! Aku boleh ya ma jemput dia di airport?"
          "Aldo? Oh temen SD kamu itu ya? Yang pindah ke Jerman? Boleh dong! Hh, dari dulu mama seneng sama anak itu, udah baik, pinter, sopan pula!" Balas mama dengan mata berbinar. "Ganteng juga, ma!" Timpal Kak Tasya. Aku masih fokus ke makananku. Minggu ini akan jadi minggu tersibuk bagiku.

Cerpen! OAO AUOO(?) Part 4

          Ini part terakhir dari "Liana".. THE CLIMAX! (?)
          "Hey, Liana! Kamu sudah bikin poster kita kan?" Tanya Chiqi sambil menghempaskan rambut bergelombangnya itu. Aku mengangguk malas. Lalu Anne tiba-tiba mengambil poster itu dari tanganku dan memberikannya kepada Kak MArcell dan KAk Tristan. Aku mengikutinya dari belakang. "Wah, keren banget nih! Siapa yang bikin?" Kata Kak Marcell sambil melihat posterku. Sebelum aku sempat menjawab, Anne langsung nyamber(?), "Aku dong kak! Bareng Chiqi!" Lalu Anne dan Chiqi tersenyum sok ceria. Ah, biarin aja, pikirku. Biarin mereka beraksi sekarang. Aku harus sabar, ya, aku harus sabar. Aku hanya bisa mengelus dada.
          Besok MOS berakhir, dan acara hari ini bisa dibilang lumayan sukses. Sepulang MOS, aku langsung dijemput Kak Tasya dengan mobilnya. Ia menyuruhku bergegas supaya kita bisa menjalankan 'rencana' kita dengan lancar. Kami pergi ke kantor Majalah Cepripis, dan disana aku didandani. Kak Rizal datang setelah aku selesai dan mengacungkan 2 jempol.
                                                                        * * *
          Seperti yang sudah kami duga, pukul 12 siang Chiqi dan Anne tiba di Kantor Majalah Cepripis. Kami semua bersiap di posisi. Chiqi dan Anne masuk ruang pemotretan dan Kak Rizal berlagak sedang memotretku. "Kak, pemotretan hari ini temanya apa?" Kata Chiqi. Kak Rizal bergegas menghampiri mereka, and here the show begins. "Aduh, maaf ya, Chiqi dan Anne, kayaknya kakak ga bisa pake kalian lagi deh." Kata Kak Rizal sok sedih. Chiqi dan Anne keliatan kaget banget. "HAH? K.. kenapa kak?" Tanya Anne. IA dan Chiqi keliatan panik banget.
          "Gini, kemaren Kak Rizal dipanggil Pak Yoko, presiden direktur majalah Cepripis. Katanya, kakak disuruh ganti model, alasannya pembaca udah ga tertarik lagi sama kalian. Dan sekarang, kalian terpaksa kakak berhentiin jadi model halaman fashion majalah ini, dan udah kakak gantiin dengan model baru yang lebih standard." Aku hanya bisa tertawa kecil mendengar penjelasan palsu dari Kak Rizal itu. Chiqi dan Anne tampak sangat kesal. "mana sih model itu? Aku mau ketemu!" Kata Chiqi langsung main terobos saja ke tempat foto. Dan dia sangat terkejut saat melihatku sedang berpose di depan background berupa ruang makan kerajaan.
          "LI!" Teriaknya, begitu juga dengan Anne yang baru menyusul. "Kenapa?" Tanyaku dengan senyum penuh remeh. Haha, ini pembalasan! "K...kamu model yang ditunjuk Pak Yoko?" Tanya Anne. Aku mengangguk penuh semangat. "Iya bener, wah jadi ini pekerjaan yang bikin kalian ga bisa bantuin aku ngerjain poster ya waktu itu? Hmm kalo gitu mulai sekarang karena aku 'model', aku limpahin aja ya semua tugasku ke kalian! udah gitu,.. nanti tinggal ngaku kalo tugas itu aku yang bikin! Enak banget ya! Wah enak nih kalo jadi model terus, hahaha!" Tuturku dengan nada penuh kesombongan. Aku merasa puas sekali sekarang, rasanya seperti berton-ton beban lepas begitu saja dari punggungku. Aku makin puas saat melihat wajah mereka memucat. Mereka naik ke tempat foto dan meraih tanganku. "Li, Li, Liana cantik, jangan gitu dong! Kita minta maaf ya! Kita janji kita ga bakal ngelakuin itu lagi! Asal, kamu kembaliin pekerjaan ini ke kita ya!" Kata mereka bersaut-sautan.
          Aku melepaskan tanganku dari genggaman mereka. "Aduh, gimana ya? Sayangnya aku udah ada kontrak sama majalah ini tuh selama 6 bulan.. dan kayaknya aku bakal sibuk banget.."Kataku mengatakan info palsu. Kulihat di pojok Kak tasya cekikikan, sementara kulihat di dekat pintu masuk ruang pemotretan Kak RIzal mengacungkan jempol. "Aku minta maaf, Chiq, Ne.. Kayaknya kalian harus pergi sekarang. Soalnya kita mau mulai kerja."Kata Kak Rizal memperkeruh suasana bagi Chiqi dan Anne. Mereka mendadak menangis sesenggukan. Kak Tasya makin tertawa ngakak. Kak rizal menepukkan tangannya pelan yang berarti 'sudah cukup'. Aku lalu menghampiri mereka yang terduduk lemas di lantai sambil berkata, "hei, aku bakal ngasi job ini buat kalian lagi. Asal, kalian janji ya ga bakal ulangin perbuatan bejat kalian itu lagi, dan berteman sama aku terus selamanya secara tulus. Janji?" Kataku sambil tersenyum dan hendak menyalami tangan mereka. "Janji!" Kata Chiqi dan Anne lalu memelukku erat. "Udah gih, sana pemotretan!" Kataku sambil tertawa kecil. "Hmm gimana kalo abis pemotretan kita ke MelissaCity Mall baut nonton film bareng?" Ajak Chiqi. "wah, boleh tuh! Katanya disana bioskopnya murah tapi bagus, kan? Mau, mau! Aku yang traktir deh!" Balas Anne. Chiqi dan Anne lalu menatapku penuh harap. "Atur aja deh!" Kataku lalu tertawa.Dalam hati aku bangga kepada diriku sendiri karena sudah berhasil mengubah sikap seseorang. Kuharap, mulai sekarang kita bisa jadi sahabat baik :).
SALAM PERSAHABATAN BUAT SEMUA ORANG DI DUNIA!!! :D